Ridwan Kamil vs Farhat Abbas

Media sosial seperti twitter memang menjadi tempat seseorang untuk mengungkapkan segala yang tak bisa mereka ungkapkan di dunia nyata. Banyak kita temui tweet-tweet dari kawan atau kerabat yang sangat bertolak belakang dengan pribadinya. Di media sosial, mereka bisa lebih menjadi diri sendiri. Kenapa? Mungkin karena mereka tidak langsung berhadapan dengan orang-orang di dunia nyata. Mereka bisa bersembunyi sambil meneriakan isi hatinya di twitter. Akibatnya, banyak kritik-kritik yang tak pantas di twitterland. Masyarakat bebas mengkritik dengan bahasa mereka kepada pemerintah. Bahkan bisa langsung me-mention pejabat melalui akun twitter yang dimiliki pejabat tersebut. Bahkan kita semua tahu presiden kita pun memiliki akun @SBYudhoyono.

”ย Di media sosial, mereka bisa lebih menjadi diri sendiri. Kenapa? Mungkin karena mereka tidak langsung berhadapan dengan orang-orang di dunia nyata.”

Tapi hal yang membuat saya geram adalah kicauan Farhat Abbas, lewat akunnya @farhatabbaslaw. Farhat mengkritik suatu hal dengan acara yang tidak etis, dan lebih memalukannya lagi, dengan kelakuannya, dia dengan beraninya mengaku siap menjadi presiden di pemilu 2014. Saya mulai geram dengan kicauannya sejak dia menghujat Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Dengan terobosan yang sangat kreatif, Ridwan Kamil yang juga seorang arsitek terus mendapat hujatan dari Farhat Abbas.

Kritikan FA terhadap RK kadang membuat kita kesal. Karena dari gaya penulisan dan dengan data-data yang salah, kritikan FA memang bertujuan untuk menghujat RK semena-mena, bukan untuk mengkritik.

Kicauan Farhat Abbas lewat akun @farhatabbaslaw. Sumber gambar: http://www.aimanimtihanah.com/

Salah satu tweet dari FA berbunyi “Kota bandung dirancang buat 500 ribu jiwa.jmlah penduduk bdg 4 jt jiwa, 100 ridwan kamil gak bakal bisa merubahnya dlm wkt 100 tahun”. Tapi apa yang ada di dalam pikiran FA ketika RK membalasnya kalau penduduk Bandung itu 2,6 juta jiwa, bukan 4 juta jiwa. Kritikan dengan data-data yang salah lainnya adalah ketika FA mengkritik fasilitas WiFi di mesjid-mesjid yang ada di Bandung. FA mengatakan bahwa fasilitas Wifi di mesjid memboroskan uang negara, menghamburkan dana APBD. Dan RK pun membalas, bahwa dana yang digunakan untuk fasilitas tersebut adalah dari CSR Telkom, bukan APBD. Tentu ini sangat lucu, dan kita semua bisa tahu kalau FA hanya ingin menjatuhkan RK. Entah karena iri atau apa.

Respon Ridwan Kamil melalui akunnya @ridwankamil. Sumber gambar: http://www.aimanimtihanah.com/

Hujatan-hujatan FA tentu menyulut emosi warga, khusunya warga Bandung. Terlebih yang melihat tweet-tweet FA di twitter adalah anak muda yang mudah terbakar emosi. Tapi saya pikir inilah yang diinginkan FA. Dia terus mengkritik Walikota Bandung dengan caranya, agar masyarakat tidak suka, agar masyarakat terus memantau tweet-tweet dia, untuk melihat kritikan apa lagi yang akan diluncurkan oleh FA. Dengan begitu FA akan semakin terkenal dan akun twitternya akan dikunjungi oleh banyak orang, walau orang tersebut adalah orang yang membencinya. Dengan begitu, FA bisa menyelipkan tweet-tweet #AkuIndonesia sebagai bentuk kampanye dan dilihat oleh orang-orang yang melihat akunnya.

“Terlebih yang melihat tweet-tweet FA di twitter adalah anak muda yang mudah terbakar emosi.”

Apapun alasan FA, sebagai pengacara yang mengerti hukum, tentu hal tersebut sangat tidak mencerminkan seseorang yang berpendidikan. Menghujat di dunia maya, mungkin FA juga lebih paham dengan etika IT dan hukum-hukumnya. Mungkin juga hanya mencari sensasi. Atau iri karena RK berhasil membangun Bandung lebih kreatif dan namanya menjulang melebihi popularitas FA sendiri di Bandung. Dan yang lebih menyedihkan, terdapat beberapa orang yang mendukung FA untuk menjadi presiden. Terlihat dari tweet-tweet yang di-retweet oleh FA.

“Dan yang lebih menyedihkan, terdapat beberapa orang yang mendukung FA untuk menjadi presiden.”

Apa yang ada dipikiran orang-orang itu? Apa mereka hanya melihat bahwa mereka butuh presiden yang berani mengkritik suatu hal? Apa mereka senang jika presiden mereka penuh dengan kontroversi? Tentu Anda dapat melihat mana yang baik dan buruk. Saya yakin Anda lebih pintar untuk memilih orang yang akan memimpin bangsa ini. Ingat, memilih pemimpin bangsa ini dengan cara sembarangan dan tidak berpikir panjang akan memberi kehancuran pada bangsanya sendiri. Karena demokrasi melahirkan orang yang terpilih, bukan yang terbaik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s