Sepenggal Cerita di Kampus UPI

Tak seperti hari aktif lainnya, kuliah hari ini dimulai pukul 09.30 WIB dengan mata kuliah Rangkaian Elektronika bersama Pak Waslaluddin. Pak Wasla (begitu panggilannya) adalah dosen yang suka melucu dengan ekspresi dan nada suara yang datar, tapi leluconnya nusuk banget, hehe. Karena masih berkaitan dengan Fisika, maka saya paham mata kuliah ini dibandingkan dengan mata kuliah seperti Arsitektur dan Organisasi Komputer. Kuliah pun berakhir dengan pemberian tugas bagi para mahasiswanya.

Setelah itu saya dan beberapa kawan saya menuju KOPMA BS (Koperasi Mahasiswa Bumi Siliwangi) untuk makan siang. Beberapa dari kami pun memesan menu masing-masing. Nah, ceritanya tiba-tiba seorang anak yang saya prediksi sekitar 13 tahun mendatangi kami dan meminta uang.

“A, nyuhunkeun acis, A…” Begitu kata anak tersebut. Padahal itu sekitar jam setengah jam 12 siang. Untuk anak sekolah, tentu pada jam seperti ini mereka masih berada di kelas. Dengan penampilannya yang malas, akhirnya anak tersebut pergi setelah Daniel memberinya uang Rp 2.000,- karena mungkin risih dengan anak tersebut. Melihat kejadian tersebut sebenarnya saya miris dengan pemikiran anak tersebut. Dengan usia yang masih muda, dia hanya meminta uang begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Padahal masih banyak orang yang sudah sangat tua tapi masih mau berusaha untuk hidup. Dan sebenarnya anak-anak semacam ini tak sedikit di negara ini. Mungkin juga karena letak UPI dikelilingi oleh pemukiman warga, jadi setiap orang dapat dengan mudah masuk ke kampus ini.

Oke, kita skip cerita yang tadi. Pukul 13.00 WIB saya ada jam kuliah mata kuliah Arsitektur dan Organisasi Komputer. Sebuah mata kuliah yang jujur menurut saya lumayan berat. Karena pada mata kuliah ini benar-benar menjelaskan bagaimana komputer bisa bekerja, jauh lebih sulit dari pada Algoritma dan Pemrograman (menurut saya), hehe. Tapi dengan belajar mata pelajaran ini saya mendapatkan banyak pengetahuan tentang komputer yang belum tentu semua orang tahu. Karena menurut dosen saya, inilah yang membedakan sarjana komputer dengan orang-orang yang “jago” komputer secara otodidak. Dan saat menampilkan diagram yang sangat rumit, Pak Rizky selaku dosen berkata “Saat kalian melihat ini dan merasa sulit dan tidak mengerti, itu wajar. Karena itulah kalian kuliah agar mengerti”. Masih banyak kata-kata sederhana Pak Rizky yang sebenarnya jika diresapi sangat mengena dan kadang memotivasi.

Sepulang dari kuliah ini, saya beberapa saat mengobrol dengan beberapa teman dari kelas lain di Perpustakaan Gedung Ilmu Komputer. Kita membicarakan masalah SNMPTN, khususnya tentang peraturan jika siswa yang berasal dari program IPA tidak bisa melanjutkan kuliah ke bidang IPS. Obrolan sangat seru, hingga tak terasa harus sudah menuju Al-Furqan untuk kumpulan PMIMS. Mereka menunggu desain baju yang saya buat. Karena saya mungkin masih lama dan mereka telah menunggu, maka desain saya upload di blog ini (sebelum tulisan ini) agar mereka bisa membuka blog saya dan melihat desannya tanpa harus menunggu saya datang (padahal saya tidak hadir pun tak masalah ya?). Dan saya kaget, saat anak yang minta uang saat di KOPMA BS tadi mendatangi kumpulan mahasiswa yang berasal dari Sumedang tersebut. Tapi kali ini dia tidak mendapatkan hasil. Kami terlalu sibuk untuk berdiskusi. Padahal dia sangat lama menunggu diberi uang, bahkan suaranya terus meninggi berharap didengar dan dikasihani.

Adzan Maghrib pun berkumandang dan saya bergegas masuk ke lantai dua Al-Furqan untuk shalat. Setidaknya ada pelajaran hari ini dari seorang anak yang masih sehat dan muda tapi malas bekerja. Di TV saya sering melihat orang-orang yang mempunyai keterbatasan tapi masih memiliki semangat dan kemauan yang tinggi untuk bekerja tuk bertahan hidup. Saat saya melihat anak itu, ada perasaan kesal seakan merasa dia telah menyia-nyiakan dan tidak mensyukuri tubuh sehatnya. Tapi itu bisa menjadi pelajaran bagi saya, apakah saya sudah mensyukuri nikmat sehat ini? Apakah saya telah memanfaatkan dengan optimal tubuh yang sehat ini untuk hal-hal yang positif? Atau kita lebih banyak melakukan hal yang sia-sia?

Saya lalu jadi teringat dengan mata kuliah Landasan Pendidikan dan juga postingan saya yang lalu tentang pendidikan luas. Ya, saya telah mendapatkan pendidikan yang dalam arti luas dengan kejadian ini. Bukan mendapatkannya dari bangku kuliah, tapi dari seorang anak yang meminta-minta dengan tubuh mudanya. Ada berjuta pendidikan yang saya dapatkan dari kampus pendidikan ini. Pendidikan yang Insya Allah merubah saya menjadi lebih baik sedikit demi sedikit. Dan cerita saya di kampus ini akan selalu berlanjut.

Iklan

2 thoughts on “Sepenggal Cerita di Kampus UPI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s