Budaya Dunia Maya

Dunia maya saat ini sudah dibuat sedemikian rupa untuk benar-benar merepresentasikan dunia nyata. Namun, sebagian orang masih dirasa belum siap menghadapi perkembangan dunia maya, entah itu dari etika penggunaan atau dampak negatif pada dunia nyata termasuk masalah sosial. Tak perlu dipungkiri media sosial sekarang sudah menjadi gaya hidup banyak orang. Pertemuan, perbincangan, hingga rapat serius pun sudah kerap menjadi sesuatu yang virtual. Bahkan, orang mungkin lebih nyaman dan lebih memilih untuk berinteraksi via media sosial yang tersedia daripada bertemu secara langsung.

Mungkin salah satunya adalah kita dapat menyembunyikan identias asli kita. Dalam artian kita dapat memanipulasi diri kita agar terlihat lebih baik dalam hal status sosial, pemikiran, atau bahkan hingga fisik seseorang. Sudah menjadi hal yang wajar jika seseorang memasang foto yang dimanipulasi agar terlihat lebih menarik lawan jenis untuk foto pengenal identitasnya di media sosial. Dan hal ini pula yang membuat orang lain ada yang merasa tertipu saat bertemu langsung di dunia nyata. Dari gaya bahasa pun, di media sosial seseorang dapat terlihat lebih cakap dalam berbicara. Namun ternyata tidak sama halnya dengan di dunia nyata.

Hal yang tak kalah menariknya dari budaya dunia maya ini adalah masalah kebebasan berekspresi. Kebanyakan orang menjadikan media sosial sebagai tempat untuk meluapkan kebebasan berkespresinya, entah itu masalah pribadi, kegemaran pada suatu hal, hingga politik. Sudah bukan hal yang aneh jika melihat seseorang berkoar-koar mengkritik atau bahkan menghina tokoh-tokoh elite politik via media sosial. Namun yang mereka lakukan hanya sebatas pada dunia maya, bukan aksi nyata pada dunia nyata. Padahal, resiko yang mereka lakukan di dunia maya dapat dikahimi di dunia nyata. Tak sedikit kasus tentang penghinaan di media sosial yang berujung pada pengadilan. Salah satunya yang paling hot mungkin adalah kasus penghinaan pada Presiden RI atau kasus penghinaan salah satu artis lokal terhadap wartawan.

Barack Obama menggunakan Twitter untuk kampanye dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat. Sumber gambar: http://minionvilla.com/wp-content/uploads/2013/10/obama_23.jpg

Pikiran untuk bebas berbicara tanpa batas di media sosial ini bukanlah hal yang patut dianggap remeh. Sudah banyak pula korban hasil bullying di media sosial yang memutuskan untuk bunuh diri. Sedangkan sang pelaku merasa aman dan tak akan berdampak apa-apa di dunia nyata. Dan media sosial pun kerap menjadi wadah untuk perang politik, contohnya saat pemilihan presiden Indonesia ke-7. Saling fitnah, menebar berita yang menjatuhkan lawan politiknya mungkin menjadi tren di media sosial saat itu. Dan alhasil masyarakat pun tak sedikit yang terpengaruh dengab kekuatan dari media sosial tersebut.

Padahal media sosial memberi kita ruang banyak jika ingin menggunakannya dengan bijak dan positif. Kita dapat bertukar informasi dengan cepat. Kita juga dapat memberikan sebuah inspirasi melalui media sosial. Dan tak sedikit pula yang menggunakan media sosial sebagai lahan bisnis yang menguntungkan. Semoga masyarakat akan jauh lebih cerdas dalam menggunakan dan menyikapi perkembangan dunia maya.

Untuk memenuhi tugas Etika Profesi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s