Road To Beswan Djarum (Part 1)

WP_20150811_07_09_47_Pro

KEMAKOM pejuang Beswan Djarum.

Bandung, 11 Agustus 2015. Pagi itu matahari belum tampak dari ufuk timur. Namun aku sudah berada di satu sisi jalan menunggu beberapa teman. Arief, Ghina dan satu lagi temannya yang ternyata bernama Rina dari Bimbingan Konseling UPI yang akan bersamaku pagi ini berangkat ke Bandung Convention Centre (BCC) untuk menghadiri undangan tes psikotes Djarum Beasiswa Plus. Sebelum 05.30 WIB kami sudah berangkat dari Gegerkalong. Arief bersama Ghina, sedangkan aku bersama Rina yang baru pagi itu pula kami bertemu dan berkenalan.

Sampai di sana, ternyata sudah cukup banyak mahasiswa dari berbagai kampus yang juga menghadiri undangan tersebut. Sambil menunggu, aku pun menyempatkan memakan dua potong roti dari Tia pagi itu. Ternyata dari kami hanya aku yang belum sarapan makanan berat sebelum berangkat tadi. Tapi roti pun sebenarnya cukup untuk mengawali hari ini. Walau mungkin sebelum siang hari perut ini sudah mulai lapar.

Ketika memasuki pukul 07.00 WIB, para mahsiswa pun mengantre sesuai dengan antrean universitasnya. Dan siapa sangaka bahwa UPI adalah kampus dengan calon Beswan Djarum (sebutan untuk penerima Djarum Beasiswa Plus) terbanyak. Antreannya pun sampai mengular. Dari mahasiswa UPI sebanyak itu, hanya Ikmal dari Pendidikan Bahasa Jerman yang kukenal. Oh iya, sebelumnya Destanti dan Tyas dari kelasku pun telah sampai. Jadi total ada 5 orang dari KEMAKOM yang hadir.

WP_20150811_06_37_22_Pro

Antrean UPI paling panjang.

Akhirnya kami semua masuk ke ruangan utama BCC. Dan entah kenapa saya mendapatkan kursi paling belakang di barisan UPI. Tadinya hanya sendirian, namun akhirnya ada mahasiswi dari Pendidikan Geografi yang menemani. Tes hari itu dipimpin oleh Pak Sapto dari pihak Djarum. Pak Sapto membuka tes kali ini dilanjutkan dengan pemutaran video profil tentang Djarum Beasiswa Plus. Setelah itu ruangan tersebut dibagi dua. Ada bagian A dan B. Bagian A memulai tes dengan Tes Potensi Akademik, sedangkan bagian B memulainya dengan psikotes. UPI berada di bagian B. Dan aku pun melaksanakan tes psikotes terlebih dahulu.

Pertama adalah Wartegg Test. Tes ini kami diberikan 8 kotak yang masing-masing kotak sudah berisi beberapa garis atau coretan. Tugas kami adalah menggambar bebas di kotak tersebut dengan melibatkan garis-garis yang telah ada menjadi sebuah gambar. Setelah itu kami dituntut untuk mengurutkan gambar mana yang kami gambar terlebih dahulu, gambar mana yang paling sulit, paling mudah, paling disukai, dan paling tak disukai. Setelah itu memasuki tes kedua, kami disuruh untuk menggambari pohon berkayu keras dan seorang manusia lengkap dengan nama, usia, pekerjaan, dll. Untuk pohon, aku menggambar pohon mangga. Karena itu paling sederhana untukku. Untuk gambar manusia, aku menggambari sosok Ridwan Kamil, dengan pekerjaan sebagai seorang Walikota Bandung dan arsitek. Dan tes ini adalah yang paling menakutkan. Kenapa? Karena aku sendiri tak tahu parameter yang baik seperti apa.

Setelah itu bagian A dan B pun bertukar tes. Saatnya aku mengerjakan tes TPA yang entah kenapa aku sangat percaya diri menghadapinya. Bukan hal sulit, apalagi pada bagian berhitung. Bahkan pada bagian berhitung yang meneruskan angka dari deretan angka yang ada aku mengisi 18 dari 20 soal yang ada sebelum waktu habis dengan percaya bahwa itu benar. Namun ada sedikit kendala saat di bagian pengetahuan umum yang berbicara seputar dunia hewan dan tumbuhan. Oh God! Itu kelemahanku. Namun soal yang lainnya seperti sejarah,  istilah-istilah cukup membantu untuk menutupi kelemahanku tersebut.

WP_20150811_11_14_06_Pro

Berfoto di siang hari yang panas.

Tes pun berakhir sekitar pukul 11.30 WIB. Dan panitia mengumumkan bahwa pengumuman yang lolos ke tahap berikutnya akan diumumkan pukul 13.00 WIB. Dari sana aku, Tyas, Destanti dan Arief mencari tempat untuk makan siang yang dekat dari BCC. Namun atrean ribuan mahasiswa di sana membuat kami memilih untuk mencari tempat lain walau sedikit jauh. Akhinya kami berjalan hingga perempatan Cibaduyut dan menemukan penjual bakso di sana. Sambil melepas lelah dan panasnya Bandung siang itu, kami istirahat sejenak, membuka jas almamater, dan menunggu pesanan dihidangkan.

Part 2

Iklan

One thought on “Road To Beswan Djarum (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s