Siapa Selanjutnya?

Kata ospek, kaderisasi atau bentuk masa orientasi lainnya pasti terdengar untuk banyak kalangan khususnya mahasiswa/siswa baru adalah sebuah hal yang sangat menjengkelkan. Hal yang menurut mereka sebagai balas dendam tentang apa yang diterima kakak tingkatnya dan diimbaskan pada mereka. Jujur saja, itu adalah pikiran kebanyakan orang. Walaupun tentu ada segelintir orang yang tak sama sekali berpikir ke arah sana.

Bagaimana kebanyakan orang berpikir seperti itu? Media adalah salah satu faktor terkuat. Sama halnya seperti demonstrasi yang diliput oleh media. Media selalu menyiarkan pada masyarakat sebuah demonstrasi yang berakhir dengan kericuhan yang membuat masyarakat berpikir jika mahasiswa yang melakukan demonstrasi hanya membuat kerusuhan, macet jalanan, dan berakhir dengan kekerasan. Yap, sama seperti halnya dengan ospek. Tak semua ospek sekejam apa yan dipikirkan. Namun saat ada satu saja yang membuat ospek terlihat negatif, imbasnya adalah prespektif masyarakat akan ospek secara keseluruhan.

Kaderisasi tak beda dengan ospek. Namun secara bahasa, ospek mempunyai tujuan untuk memperkenalkan lingkungan dan kehidupan kampus. Walau tak bisa kita pungkiri bahwa banyak metode ospek yang melenceng dari tujuan utamanya tersebut. Sedangkan kaderisasi memiliki tujuan untuk mengkader, mencari pengganti dan penerus yang akan menempati posisi kakak tingkatnya di masa yang akan datang.

Mungkin awal mula pergerakan sebuah organisasi dalam satu periode memiliki pertanyaan apa yang akan mereka lakukan. Dan di akhir, akan muncul pertanyaan siapa orang selanjutnya yang akan meneruskan organisasi tersebut di masa periode setelahnya. Karena seorang legenda adalah orang yang telah meninggalkan masa emasnya. Yap, meninggalkan masa emas. Karena tak ada orang yang selalu bisa menangani sesuatu secara terus menerus. Oleh karena itu harus terjadi sebuah regenerasi.

Saya pernah mendengarkan suatu orasi dari ahli seni di UPI. Dia mengatakan bahwa ketika tradisi telah mati, lahirlah sebuah kreasi. Konsep serupa sama dengan kaderisasi. Anggaplah kepengurusan periode lama adalah sebuah tradisi, dan kepengurusan baru adalah sebuah kreasi. Siklus itu akan terus bergulir di mana sebuah kreasi tadi akan menjadi sebuah tradisi dan akan digantikan oleh kreasi yang baru. Siklus ini sudah merupakan sebuah hukum alam, harus terjadi. Yang dapat kita lakukan adalah bagaimana sebuah kreasi tersebut adalah kreasi yang lebih baik dari tradisi sebelumnya. Itulah yang menjadi tujuan dari kaderisasi, memastikan penerusnya akan lebih baik dari sebelumnya.

Tapi yang perlu diingat adalah setiap orang mempunyai zaman, dan setiap zaman mempunyai orang. Ketika kita berbicara orang sukses, pasti dia pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya sebelum dia mendapatkan titik tertinggi, yaitu kesuksesan tersebut. Misalkanlah titik tersebut adalah ketika dia menjadi seorang pemain sepak bola terkenal. Dan yang menjadi pertanyaannya adalah apakah dia akan selalu menjadi pemain sepak bola. Tidak. Mungkin dia akan menjadi seorang legenda, tapi kehidupannya akan berbeda jauh dengan ketika dia masih berada di masa emasnya tersebut. Itulah yang dimaksud setiap orang memiliki zamannya sendiri.

Dan yang kita bicarakan adalah perihal yang kedua, yaitu setiap zaman mempunyai orang. Maksudnya adalah pasti setidak-tidaknya akan selalu ada orang yang menonjol dalam satu generasi. Jika kita memasukannya dalam konteks organisasi kemahasiswaan, setiap angkatan pasti memiliki orang yang terlihat hebat dalam kepemimpinannya, pandai berdebat, terlihat pendiam, hingga yang dicap sebagai troublemaker. Dan itu mungkin juga sudah menjadi sebuah hukum alam yang terus bergulir dan bersiklus.

Intinya, tugas dari kaderisasi adalah untuk mencari orang-orang yang dimaksud. Ketika dalam satu angkatan ada yang dipandang baik untuk dipercaya sebagai presiden sebuah himpunan jurusan, maka di angkatan selanjutnya juga pasti ada setidaknya satu orang. Orang tersebut tak harus sama seperti presiden sebelumnya. Pasti ia memiliki kekurangan jika dibandingkan dengan presiden sebelumnya. Tapi yang perlu diingat bahwa pasti dia memiliki sesuatu yang unik yang tak dimiliki oleh presiden sebelumnya.

So, kaderisasi itu penting. Kaderisasi itu memiliki misi yang sangat baik untuk keberlangsungan organisasi yang ada. Hanya saja tinggal memilih metode yang baik dan tidak menyimpang untuk melakukan kegiatan kaderisasi tersebut. Agar kaderisasi terus berjalan dengan baik, tanpa ada tanggapan negatif dari masyarakat luas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s