Satu Semester

Sumber gambar: fajartuban.com

Ternyata sudah hampir satu semester saya menjadi seorang mahasiswa. Sebuah gelar yang mungkin dipandang sebagai “orang pintar” atau “orang terpelajar”. Sebagian lagi memandang gelar ini sebagai pembuat kerusuhan dengan aksi demonstrasi yang berujung dengan aksi anarkis. Karena manusia memiliki cara memandang yang berbeda setiap individu, maka tak ada yang salah dengan semua pandangan itu.

Saya sekarang berkuliah di Program Studi Ilmu Komputer Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. Orang tua dulu mungkin lebih mengenal kampus saya ini dengan nama IKIP, karena dulunya kampus saya memang IKIP yang “berubah” menjadi UPI seiring dengan perkembangan zaman. Sesuai namanya, kampus saya berorientasi pada pendidikan. Semua fakultas di kampus saya ini terdapat kata pendidikan di namanya. Dan tentu kampus saya ini sudah biasa menyelenggarakan berbagai seminar nasional maupun internasional dalam bidang pendidikan. Yang terbaru (14 Nopember 2013), ada National Education Conference di Auditorium JICA FPMIPA UPI. Saya melihat banyak mahasiswa dari berbagai universitas seperti Unnes, Unair, UNJ, UNY, ITB, dll. Mungkin mereka adalah delegasi dari kampus mereka untuk menghadiri acara ini. Dan pada seminar yang bertajuk “ICT for Education”, pembicaranya adalah Prof. Munir, MIT yang tak lain adalah dosen mata kuliah pengantar teknologi informasi (bangga, hehe).

“Sesuai namanya, kampus saya berorientasi pada pendidikan.”

Tapi berbicara mengenai pendidikan, saya menemukan sebuah pandangan yang tak biasa dan menurut saya luar biasa. Deddy Corbuzier, seorang entertainer nasional mengemukakan pendapatnya tentang pendidikan di Indonesia melalui rekaman suara yang dipublikasikan lewat akun soundcloud resminya. Dia mengatakan bahwa sekolah itu membunuh kreatifitas anak. Di mana seorang anak menjadi takut salah dan menghilangkan berbagai imajinasinya saat waktu kecil.

Ujarnya, dia pernah bertemu seorang anak kecil yang sedang menggambar abtrak. Lalu dia bertanya kepada anak kecil tersebut sedang menggambar apa dia. Lalu anak kecil tersebut menjawab bahwa dia sedang menggambar Tuhan. Lalu dia bertanya lagi. “Kan orang-orang gak tahu Tuhan itu seperti apa”. Dan yang mengejutkan adalah anak kecil tersebut menjawab, “Makannya biar saya selesai dulu, Om. Biar orang-orang tahu Tuhan itu seperti apa”. Yang menjadi nilai di sini adalah bahwa anak kecil tidak takut salah. Mereka selalu melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Dan semua itu akan hilang seiring dengan perkembangan dia di sekolah.

Dalam rekaman suara tersebut, Deddy sangat mengupas habis pandangannya tentang pendidikan di negara ini. Dan itu cukup untuk membuka mata saya untuk memiliki pandangan baru, bahwa kita harus melakukan apa yang memang kita suka. Kita tak bisa harus mengikuti alur begitu saja. Berangkat ke sekolah, terpaksa belajar, terpaksa menghafal pelajaran yang mungkin sebenarnya tidak kita sukai, dapat nilai bagus, lulus, kuliah, wisuda, dan akhirnya melamar pekerjaan dan menjadi seorang pekerja. Padahal pada kenyataannya, banyak orang yang di sekolahnya tidak berprestasi bahkan tidak sekolah yang bisa sukses karena dia melakukan apa yang dia cintai. Musisi, penulis, programmer, banyak diantara mereka yang tidak memiliki prestasi bagus semasa sekolah.

“Sekolah membunuh kreatifitas anak!” -Deddy Corbuzier

Kita tahu bahwa banyak lulusan Harvard University atau Massachusets Institute of Technology yang mungkin bekerja di Microsoft atau Facebook dengan gaji selangit. Tapi tahukah Anda bahwa mereka dibawahi oleh orang-orang yang tak memiliki gelar sarjana? Bill Gates dan Mark Zuckerberg adalah orang-orang yang terus menekuni apa yang dia cintai, dan sukses tanpa memiliki gelar resmi dari sebuah universitas sebagai sarjana. Dan Bill Gates sukses pernah menjadi orang terkaya di dunia, dan Mark Zuckerberg sukses menjadi orang muda (di bawah 40 tahun) terkaya di dunia.

Siapa yang menyangka Adi Dassler yang awalnya menjahit sepatu olahraga dapat menjadi sukses dangan brand Adidas yang kita kenal sekarang, siapa menyangka Matthew Bellamy vokalis Muse pernah bekerja sebagai tukang cuci van. Semua itu mereka dapatkan karena mereka melakukan apa yang mereka cintai, bukan melakukan apa yang mereka harus lakukan sesuai dengan alur yang dibuat oleh orang lain yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan kesuksesan mereka. Itu mengapa dalam berbagai seminat entrepreneurship, pembicara selalu mengatakan jadilah orang kreatif. Karena orang pintar bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji puluhan juta rupiah perbulan, dan orang kreatif bisa membuat pekerjaan dan membayar orang pintar puluhan juta rupiah perbulan.

“Siapa menyangka Matthew Bellamy vokalis Muse pernah bekerja sebagai tukang cuci van.”

Mungkin banyak waktu dan kesempatan yang saya buang selama setengah semester ini. Mungkin banyak hal luar biasa yang saya bisa lakukan selama ini. Tapi tidak ada kata terlambat untuk berusaha dan menggapai kesuksesan. Pendiri KFC pun baru merasakan sukses dengan usahanya setelah ia menginjak usia 70 tahun dan mengalami kegagalan ribuan kali. Itu sebabnya di KFC kita akan melihat gambar wajah seorang kakek sebagai ikon tempat makan cepat saji tersebut. Karena memang sang pendiri merasakan sukses saat sudah menjadi seorang kakek.

Setiap orang memiliki pandangan tersendiri bagaimana dia menjalani hidup. Tak ada yang mutlak benar dan tak ada yang patut disalahkan selama tidak melanggar norma yang ada. Itu sebabnya dunia ini terasa indah karena perbedaan. Termasuk perbedaan pandangan hidup. Ingat, pelangi indah karena perbedaan warna yang menjadi satu, bukan hanya karena satu warna yang menguasai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s