Kisah Tragis Perpanjang SIM

Berbekal surat yang dicetak dari hasil pengisian data di SIM Online, aku ditemani Tia menuju Polrestabes Bandung pada Selasa (14/3) kemarin. Berharap proses cepat karena ini adalah rekomendasi dari Pak Eddy yang berkata hanya tinggal bayar dan foto di tempat. Terlebih total biaya yang dicantumkan hanyalah sebesar Rp 75.000,-. Aku berangkat ke sana juga dibekali dengan surat kesehatan dari Polikliknik UPI secara gratis karena berstatus sebagai mahasiswa.

Sampai di sana aku harus ikut dalam antrean yang mengular hingga keluar. Setelah berhadapan dengan petugas di resepsionis, petugas tersebut mengatakan untuk perpanjangan SIM tidak usah online. Loh? Oke lah tak apa pernyataan bapak tersebut. Lalu aku menuju loket 1 untuk mendaftar. Setelah dilihat berkas yang kubawa petugas di loket 1 mengatakan bahwa surat keterangan yang kubawa tidak lengkap, tidak ada cek penglihatan, buta warna, dll. Akhirnya aku disarankan untuk ke dokter umum di beberapa meter sebelah kantor tersebut. Oke aku berjalan untuk mencari dokter umum yang dimaksud.

Namun ternyata masuk gang dan cukup ragu apakah benar ada dokter umum masuk ke gang seperti itu yang sulit dijangkau oleh mobil. Dan ternyata bentuknya memang sebuah ruangan yang bagiku tak layak untuk disebut sebagai tempat praktik kesehatan di kota sebesar Bandung. Di sana sudah mengantre orang-orang yang mengurus SIM. Dan yang mengejutkan adalah pengecekan yang kurasa semena-mena. Pertama dari tes buta warna, orang yang dites menyebutkan angka-angka sedangkan perawat atau petugasnya sambil menonton drama India di TV. Kedua untuk tes jarak pandang, pengecekannya sangat tidak wajar dari segi jarak dan juga orang yang dites tidak diminta untuk menutup mata sebelah! Alhasil aku yang berkacamata saja dapat membaca huruf paling kecil di bawah. Juga saat menunjukkan huruf apa yang dibaca terlihat terkesan ingin cepat selesai. Kita belum menyebutkan hurufnya tapi si perawat sudah menunjuk ke huruf lain. Dan biayanya pun sebesar Rp 40.000,-. Wow!

Oke, kocek Rp 40.000,- sudah keluar. Sambil berjalan menuju kantor kembali terdapar seorang bapak yang menawarkan ‘bantuan’ untuk pembuatan SIM. Wah, ini di Bandung ternyata masih saja ada calo semacam ini. Tanpa menghiraukan langsung saja aku bergegas ke loket 1 lagi karena tak mau menunggu antrean yang semakin banyak. Sampai di loket 1 aku ditanya tentang pembayaran asuransi. Lah? Apa lagi ini? Tapi karena tak tahu aku langsung mencari loket asuransi di dalam. Loketnya cukup mencurigakan. Haya seperti mimbar dan tidak diberi nomor loket. Kuitansi yang diberikan pun seperti kertas abal-abal dan tak ada lembaga asuransinya. Setelah akan melampirkan bukti pembayaran pada dokumen yang lain, petugas di ‘loket’ asuransi itu mengatakan untuk disimpan saja. WAH! Lalu untuk apa bayar asuransi jika tak perlu ditunjukkan atau dilampirkan. Aku kembali ke loket 1 dan benar saja tak ditanya lagi bukti pembayarannya mana. Wah ini jangan-jangan semacam pungli. Aku lalu googling tentang asuransi untuk mengurus SIM. Dan benar saja ternyata itu tidak wajib! Jleb! Rp 30.000,- melayang untuk asuransi yang tak tau bagaimana cara klaimnya. Aku berniat untuk membahasnya pada loket asuransi tadi setelah SIM beres.

Lalu aku membayar uang perpanjangan SIM C sebesar Rp 75.000,-. Total sudah Rp 145.000,- yang dikeluarkan alias dua kali lipat dari yang tertera di SIM Online. Dan lebih menyebalkan lagi, di sana aku diminta untuk mengisi data lagi secara manual! Lalu data yang kuisi beberapa hari lalu lewat SIM Online itu gunanya apa? Wajar jika aku berada di kota lain seperti Sumedang. Tapi ini Bandung. Aku awalnya percaya bahwa penggunaan sistem di Polrestabes Bandung sudah baik. Oke lah, aku isi kembali form itu dengan sedikit rasa jengkel setelah kehilangan uang pula. Setelah itu aku bergegas ke loket 3 untuk pemotretan.

Di sana ada insiden konyol ketika seorang perempuan marah karena dokumen yang ditumpuk justru dibalik oleh petugas. Jadi bentuknya adlaah stack, bukan queue. Jelas saja perempuan yang datang dari tadi mendapat bagian di akhir. Dan sebelum dia dapat bagian sudah datang dokumen yang menumpuk di atasnya. Tapi yang sangat disayangkan adalah ternyata petugas menyerang balik dan tak mau disalahkan. Cukup lama. Petugas terus mengomeli perempuan tadi hingga orang-orang di sana kesal dan berkata ‘lanjut pal lanjut!’ karena bosan mendengar petugas tersebut mengomel sedangkan antrean sangat banyak. Sangat disayangkan juga ternyata petugas tadi ‘baperan’ level tinggi. Sampai akhir saya meninggalkan loket pun masih terus mem-bully perempuan tadi. Bahkan saat perempuan tadi difoto, entah memang rusak atau disengaja komputernya tiba-tiba error. Aku melihatnya bukan error, tapi petugas tadi memang tidak suka dengan perempuan yang menegurnya. Dan lebih parah lagi ternyata setelah beberapa saat perempuan tadi datang kembali dan protes karena fotonya tidak simetris! Parah! Aku yakin itu disengaja oleh petugasnya. Ini adalah momen yang paling disayangkan dari hari itu. Hingga akhirnya aku mendapat giliran untuk difoto yang untungnya petugas tadi sudah diganti. Saat aku duduk, petugas yang akan memotret mengatakan pada kawan sebelahnya, “Gancang kaburu aya penilik”. Haduh. Habislah sudah rasa percayaku pada lembaga ini untuk hari ini.

Setelah beres foto, sidik jari, dan tanda tangan aku bergegas ke loket 8 untuk mencetak SIM baru. Sepertinya hanya loket 8 yang aman-aman saja. Aku lalu bergegas keluar kantor dengan rasa kesal. Asuransi? Hah percuma jika aku protes. Yang ada aku sama seperti perempuan tadi, bukan didengar justru dilawan dan di-bully. Mungkin karakter melayani masyarakat harus lebih dibangun. Bukan justru menjadi merasa lebih tinggi dari masyarakat. Ingat, polisi atau yang semacamnya adalah pelayan masyarakat. Semoga pelayanan masyarakat akan terus mengalami kemajuan.

Iklan

3 thoughts on “Kisah Tragis Perpanjang SIM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s