Reuni Mini IPA 5

Siang tadi (12/12) aku bertemu beberapa kawan SMA yang sudah merencanakan pertemuan tuk sekedar bertatap muka. Yang hadir pun tak banyak. Hanya ada aku, Tresna, Ayep, Dendi, Mia, Dinda, Nisa, Mega, dan Asifa. Beberapa kawan lainnya mungkin sedang berada di luar Sumedang atau memiliki suatu agenda yang lebih diutamakan. Pertemuan ini diadakan di Kedai Es Krim Nong-Nong. Tak banyak ternyata yang tahu keberadaan tempat itu. Memang hal yang disayangkan dari kedai es krim tersebut adalah lokasi yang tak terlihat karena berada di sekitar pasar dan penerangan tempat yang kurang terang. Padahal interior kedai ini sangat nyaman dengan nuansa bambu dan kayu, jauh dari kesan berada di samping pasar.

Ya jika bertemu dengan Ayep dan Dendi, tentu banyolan kami sangat nyambung dari mulai kelas X SMA. Ditambah dengan Tresna yang sering dipanggil Adut yang juga akhirnya dapat masuk ke area perbanyolan kami. Perempuan yang hadir pun adalah orang-orang yang selalu mengapresiasi banyolan kami, tentu paling fanatik adalah Mega. Perempuan yang hobi menulis cerita dengan tokoh artis-artis Korea (yang kemudian disebut fanfic, atau semacamnya) ini selalu heboh jikapara laki-laki ini berkumpul dengan banyolannya. Pasti tawanya paling heboh hingga terpingkal-pingkal. Ditambah dengan Asifa yang sangat polos dan hanya tahan berhenti bicara tak lebih dari 60 detik dan selalu ada hal yang ingin dibicarakan.

Sebenarnya cukup disayangkan tak semua kawan kami dapat hadir. Tapi walau hanya segelintir orang, ini cukup untuk menghibur diri dan menganggapnya sebagai sebuah liburan. Bertemu dengan mereka dan bercerita kekonyolan saat perjalanan ke Bali menjadi bahan utama kami. Mulai dari memori bagaimana masing-masing dari kami muntah, membicarakan pantai Dreamland yang indah namun panas, hingga mengingat beberapa kejadian yang menyangkut beberapa guru kami. Wah. Memang zaman SMA adalah zaman paling asyik untuk dikenang. Karena mungkin jika bertemu dengan teman kuliah suatu saat, kami akan membicarakan masa-masa perjuangan untuk mencapai kesuksesan saat itu. Tapi jika bertemu dengan kawan SMA? Yang dibicarakan dan dikenang adalah kekonyolan masa-masa SMA karena kami sedang membicarakan di mana kami masih menjadi seorang remaja yang labil, penuh mimpi, tak takut segala risiko, dan tentu kekonyolan dan kenakalan saat masih SMA yang tentu akan berbeda dengan suasana saat kuliah.

Masa putih abu adalah masa transisi. Di mana kenangannya tak terlalu jauh ketika menjadi anak kecil, dan tak terlalu dini ketika kita sudah memiliki akal dan naluri sebagai mahasiswa. Masa SMA ada di tengahnya. Di mana kita beranjak dewasa dengan pilihan hidup yang mulai terasa nyata tapi juga masih menyisakan nuansa anak-anak yang senang bermain dan melihat dunia luas. Dan masa itu tak akan habis untuk diceritakan.

Pertemuan kami seperti ini sangat langka. Paling tidak hanya satu kali dalam setahun, yaitu ketika buka bersama di Ramadhan tiap tahunnya. Beberapa dari kami sudah ada yang diwisuda dan bekerja di luar Sumedang. Beberapa sudah bekerja dari dahulu, dan beberapa masih berjuang menyelesaikan studinya. Semoga kami selalu diberi kesempatan untuk berkumpul hingga nanti, membawa cerita putih abu yang akan selalu menarik sampai kapanpun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s