Indonesia Punya Siapa?

Baru saja kita dihebohkan dengan meriahnya aksi 212 yang juga menjadi shalat Jumat terbesar sepanjang sejarah. Aksi tersebut tentunya adalah lanjutan dari aksi 411 yang menuntut Ahok agar dipenjarakan terkait dugaan penistaan agama ketika Ahok berkunjung ke Kepulauan Seribu dengan kalimat yang sangat kontroversial. Walau sebagian tidak setuju bahwa aksi 212 disebut sebagai aksi (sebagian menyebutnya doa bersama), namun hal yang ditekankan bahwa Ahok telah menistakan agama dan melanggar norma-norma toleransi. Di sela isu ini juga sedang ramai tentang kepedulian bangsa kita terhadap kaum minoritas Muslim Rohingya di Myanmar yang kerap mendapatkan perlakuan tidak sepantasnya dari pemerintah. Dan kita di sini berkoar agar pemerintah tidak semena-mena terhadap kaum minoritas.

Namun yang terjadi kemarin sungguh kontras dan sangat disayangkan. Kegiataan keagamaan kristen (KKR) yang sudah sekian tahun diadakan di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB dibubarkan oleh salah satu ormas muslim. Beberapa foto juga memperlihatkan orang-orang membawa spanduk yang mirisnya mengatasnamakan muslim jabar. Tersebar pula video beberapa orang yang masuk ke acara dan menghentikan acara dan melarang orang-orang yang ada di sana untuk bernyanyi. Lucunya adalah mereka menuntut agar kegiatan semacam ini dilakukan di gereja saja, bukan di tempat/fasilitas umum.

Wah. Tidak habis pikir apa yang ada dipikiran yang melakukan tindakan tersebut. Apakah jalan di Jakarta yang digunakan dalam aksi bukan fasilitas umum? Bahkan karena aksi tersebut mungkin banyak kantor harus tutup. Dan siapa tahu juga banyak orang-orang yang kesempatannya direnggut karena jalanan yang dipadati peserta aksi. Jalanan benar-benar fasilitas umum dan sangat vital perannya. Sedangkan Sabuga adalah fasilitas yang harus disewa.

Hal ini dapat terjadi karena kesombongan. Merasa paling benar dan lebih bahaya lagi merasa tanah yang ditinggalinya adalah milik satu kaum saja. Indonesia ini milik siapa? Mengapa mayoritas dapat melakukan kegiatannya dalam skala sangat besar di fasilitas umum sedangkan minoritas harus terusik dengan alasan menggunakan fasilitas umum untuk ibadahnya? Kesombongan karena merasa paling benar, dan tentu merasa paling banyak. Bagaimana mungkin kita mengingkan muslim di luar negeri sana sebagai minoritas tentram tanpa rasa takut untuk menggunakan hijab dan beribadah jika di negara kita pun kaum minoritas dibatasi oleh kaum mayoritas. Dengan hati yang jujur tentu kita akan merasa ada yang salah dengan sikap seperti itu.

Menanggapi dibubarkannya saat ibadah, bagaimana rasanya ketika shalat Jumat di Amerika saat khutbah tiba-tiba terdapat segerombolan orang yang masuk ke dalam masjid dan membubarkan kegiatan shalat. Tentu kaum muslim akan sakit hati dan tidak terima dengan perlakuan yang intoleran semacam itu. Lalu, mengapa masih sampai pikir untuk melakukan itu pada kaum minoritas di negeri ini?

Hal-hal semacam ini sangat disayangkan terlebih dengan mental orang-orang di Indonesia yang sangat mudah terprovokasi apalagi jika sudah membahas agama. Karena jika yang diserang adalah agama, orang-orang akan mati-matian membela bahkan hingga menjadikan hubungan pada rekan menjadi buruk. Sedangkan orang-orang yang tidak setuju akan diam karena takut disebut kafir, tidak beragama, dll. Dan kini semua orang tahu hal apa yang harus ‘diserang’ jika ingin memecah belah bangsa, atau menurunkan pemerintah sekalipun.

Mari berbenah diri. Semua orang memiliki hati nurani untuk saling berdamai. Biarkan setiap pemeluk agama di negeri ini tentram untuk beribadah pada keyakinannya masing-masing. Karena masing-masing pasti yakin bahwa agamanya paling benar, tapi bukan berarti harus menindas dan menganggap yang lain lebih rendah dalam perlakuan yang tidak baik. Silakan mencintai dan meyakini agama kita masing-masing. Beribadah dengan nyaman dan tentram, sambil tetap hidup rukun berdampingan tanpa saling menggannggu dan mengusik.

Indonesia punya siapa? Indonesia milik kita semua, warga Indonesia apapun suku, agama, dan rasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s