Kisah Gemastik 9 Hari ke-3 (2/2): Tersesat di Hutan Kota

Sebelum kami menuju stasiun, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto di ikon UI, yaitu gedung rektorat. Di sana kami mengambil beberapa foto sambil kepanasan. Kami berjalan pula menuju halte bikun terdekat yang sebelumnya mengambil foto perpustakaan dari jauh. Setelah tiba di halte, kami menunggu beberapa saat bersama mahasiswa UI lainnya hingga bikun datang dan mengantarkan kami ke stasiun walau berdesakan.

Sebenarnya cukup konyol ketika kami berada di loket Stasiun Universitas Indonesia. Karena itu adalah pertama kali bagi kami semua untuk naik commuter line. Bahkan aku dan Fadhlul sempat bertanya terlebih dahulu ke pada satpam untuk memesan tiketnya. Haduh, cukup memalukan memang. Untuk menuju ke Stasiun Bogor, kami dikenakan biaya Rp 14,000,-. Biaya tersebut sebenarnya hanya Rp 4.000,- untuk perjalanan. Sisanya untuk jaminan kartu yang digunakan untuk masuk gerbang yang nantinya bisa ditukarkan kembali menjadi uang. Alhasil kami berhasil naik commuter line walau pada saat kereta pertama kami tidak jadi naik karena Fadly tiba-tiba menghilang dan mengharuskan kami menunggu kereta selanjutnya.

Di dalam kereta kami saling bertukar pandang. Memikirkan lucunya kami di loket tadi. Aku duduk di sebelah Luthfi yang bercerita bahwa ini adalah pengalaman pertamanya menaiki kereta, apalagi untuk kawan-kawan kami dari Riau. Dan ternyata perjalanan cukup cepat. Antar stasiun kami lewati dengan cepat hingga kami tiba di Stasiun Bogor dengan kondisi hujan di luar sana.

Setelah keluar, kami berdiskusi tentang tujuan kami berada di Bogor. Ada dua pilihan: Kebun Raya Bogor dan IPB. Namun akhirnya kami memilih untuk menuju Kebun Raya Bogor karena jaraknya lebih dekat. Dari stasiun kami menaiki angkot 02 yang menjanjikan kami agar bisa tiba di pintu utama KRB. Di tengah perjalanan kami melewati Taman Topi yang bangunannya masih persis sama seperti sepuluh tahun lalu. Dulu aku sering menghabiskan waktu libur akhir pekan bersama keluarga menuju taman tersebut.

Sesampainya di KRB, kami masuk dan mulai mencari tempat salat dan makan. Tiket masuk perorang pun sebesar Rp 15.000,-. Setelah melihat peta dan memotretnya, kami bergegas menuju mushala untuk salat. Setelah itu kami mencari kafe dengan mengikuti peta. Cukup jauh. Lelah juga. Apalagi saat itu seadng turun gerimis. Ternyata kafe yang ditunjukkan oleh peta tersebut adalah sebuah restoran dengan nuansa patung-patung yang dipastikan sangat mahal harga makanannya. Di depannya terdapat halaman yang sangat luas seperti lapang golf. Karena kami tidak memungkinkan untuk membeli makanan di sana, kami memutuskan untuk berjalan kembali sambil menahan lapar.

Namun pada daya kami tersesat di KRB. Setelah melewati jembatan berwarna merah yang cantik, kami mulai tersesat. Kala itu KRB sedang sepi dan setelah diguyur hujan, seolah hanya kami yang ada di hutan tersebut. Yap, kami kehujanan. Basah kuyup. Tapi kami terus berlari sambil tertawa-tawa betapa bodohnya kami jika dibayangkan. Di sana kami bercanda dengan nada manja ingin segera kembali ke Depok. Dan akhirnya kami dapat keluar dari KRB walau harus memutar jalan melewati Gedung Konservasi sambil terus diguyur hujan.

Kami kembali menuju stasiun dengan menaiki angkot 03. Kali ini biayanya hanya Rp 3.500,-. Berselisih hanya Rp 500,- lebih murah dari pada saat beragkat. Karena hari sudah sore, kami bergegas menuju loket untuk mengantre. Tapi siapa sangka antrean sangat panjang yang membuat kami putus asa dan membuat kami mengambil keputusan untuk keluar stasiun kembali untuk membeli makan. Akhirnya kami membeli bakso di luar stasiun sambil menghangatkan badan. Lagi-lagi kami tertawa dengan pengalaman pertualangan yang seru itu.

Selanjutnya kami mulai mengantre di bagian loket yang menggunakan vending machine. Ada rumor bahwa vending machine harus memasukan uang pas. Saat itu juga wajah Ernest pucat karena tidak membawa uang pas dan memulai antrean baru di loket yang dilayani petugas. Kami menertawai Ernest yang harus kembali ke antrean paling belakang setelah menunggu di antrean yang panjang ini. Tapi ada masalah dengan vending machine yang ada di antrean kami, rusak berkali-kali. Dan siapa sangka Ernest keluar terlebih dahulu dengan telah mengisi ulang kartu jaminan commuter line-nya. Haha. Kali ini dia yang menertawakan kami karena masih dalam antrean. Terlebih kartu Fadhil bermasalah dan akhirnya harus mengantre ulang di loket yang dilayani petugas sama seperti Ernest.

Aku sendiri kedinginan dalam perjalanan kami menuju Depok. Rambut basah kuyup serta tak membawa jaket membuat aku menggigil duduk di kursi kereta. Kami akhirnya tiba selamat di stasiun dengan lega, seolah menutup pertualangan tersesat di KRB yang cukup menyebalkan. Kami menunggu bikun yang mengantarkan kami ke asrama.

Tapi pada malam hari kami masih memiliki energi. Aku baru pulang dari kamar mereka sekitar pukul 23.30 WIB karena terlalu asyik bercerita. Di sana pula kami saling menonton film animasi yang kami buat, bercerita kenangan di Gemastik 8 dan juga bercerita tentang kehidupan di Riau, termasuk tentang kampus mereka. Walau kami hanya bersama beberapa hari tahun lalu dan baru bertemu kembali tahun ini, namun mereka sudah sangat terasa akrab. Senang memiliki teman jauh yang hanya bisa bertemu di ajang kompetisi.

Terima kasih pula untuk Gemastik yang telah mempertemukan aku bersama orang-orang baik dan hebat ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s