Kisah Gemastik 9 Hari ke-3 (1/2): Hari Utama

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda dan juga satu tahun aku naik podium Gemastik 8 di Grha Sabha Pramana UGM, hari ini Fadhil dan Luthfi harus menghadapi presentasi yang mana adalah puncak dari semua perjuangan selama ini dan alasan kami berada di Depok. Presentasi dilaksanakan di Gedung Fasilkom B lantai 6 di ruang 2602. Pagi itu aku menyusul mereka yang telah tiba dahulu dan kutemui mereka di ruangan sebelah dari tempat presentasi.

Untuk tempat presentasi sendiri kali ini ruang kelas biasa dengan layar monitor untuk menayangkan film dan layar dengan proyektornya untuk menampilkan bahan presentasi. Berbeda dari tahun lalu yang mana aku dan Teti berpresentasi di sebuah auditorium layaknya bioskop mini di Pertamina Tower, FEB UGM. Namun untuk tunggu peserta sangat nyaman karena diberikan ruangan khusus. Tahun lalu kami harus mencari-cari tempat hanya untuk sekedar duduk yang akhirnya beberapa dari kami harus duduk di tangga gedung.

Sebelum mereka masuk ke ruangan presentasi, kami sempat mengobrol sekedar untuk menenangkan mereka yang terlihar gugup. Tak peduli hasilnya, mereka sudah juara bagiku. Lawan mereka kebanyakan adalah semester 7, sedangkan mereka baru menginjak semester 3. Perjalanan mereka masih panjang dan masih bisa mengikuti kompetisi ini hingga Gemastik 11.

Saat mereka masuk pun aku menunggu di dekat pintu untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam walau saat sesi tanya jawab tak terdengar sama sekali. Aku pun berbincang dengan finalis dari Universitas Telkom yang mendapatkan urutan presentasi setelah Fadhil dan Luthfi. Mereka adalah asisten lab multimedia di kampusnya, sama seperti kami rupanya. Namun mereka mendapatkan semangat moral dari kawan-kawannya dari kategori yang lain.

img_20161028_104310_hdr

Lokasi presentasi.

Setelah itu kami langsung mencari lokasi untuk makan. Aku membeli sate yang kemarin aku dan Kang Faisal kunjungi. Harganya sangat murah seperti yang diceritakan di tulisan sebelumnya, hanya Rp 10.000,-. Makan kami pun harus terburu-buru karena dikejar oleh jam Salat Jumat. Beres makan kami langsung bergegas ke Majid Ukhuwah Islamiyah atau yang disingkat Masjid UI atau MUI.

Tak dibayangkan ternyata masjid sangat penuh. Air di toilet pun habis. Bagiku untuk ukuran kampus sebesar UI, tempat ibadah ini terlalu kecil. Banyak dari orang-orang yang harus mengamparkan alas untuk dapat salat di atas rumput-rumput sekitar masjid. Kami pun harus berdesakan untuk mendapatkan tempat di lantai 2. Kalau sudah begini jadi terbayang suasana di Al-Furqan yang sangat luas.

Tapi yang paling menarik adalah rencana setelah salat. Kami bersama peserta dari Polteknik Caltex Riau merencanakan untuk jalan-jalan ke Bogor menggunakan commuter line dari Stasiun Universitas Indonesia. Dan siapa sangka perjalanan tersebut akan menjadi pengalaman pertualangan yang cukup berkesan. Cerita khusus perjalanan kami akan dibahas ditulisan selanjutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s