Lembangshire

Berbagai tugas dan tekanan membuat pikiran sangat penat. Jika sudah penat maka sulit untuk melakukan pekerjaan dengan hati yang senang. Untuk memutus rantai tersebut maka lakukanlah hal yang menjadi hak seluruh umat manusia: bertamasya.

Kali ini aku dan Tia ‘jalan-jalan’ ke sebuah tempat wisata di Lembang yang sudah sangat terkenal bahkan menjadi salah satu lokasi yang paling sering muncul di Instagram selain Maribaya Lodge, yaitu Farmhouse. Tempat wisata ini mendadak populer semenjak terdapat spot foto yang sering disebut dengan Rumah The Hobbit. Sebenarnya hanya berupa replika dengan bentuk bangunan dan pintu seperti rumah Bilbo Bagins dan Frodo. Foto-foto yang beredar sangat bernuansa seperti Shire. Namun sebenarnya jika dilihat dari jauh, kanan dan kiri rumah tersebut mengurangi rasa Shire karena terdapat bangunan modern.

Kami berangkat ke Farmhouse sekitar pukul 13.30 WIB. Jalanan menuju Lembang sangat macet. Maklum hari libur seperti ini banyak sekali yang mengunjungi Lembang karena memiliki banyak tempat wisata yang kadang membuat jalanan di depan kampus menjadi macet. Kami mendapat parkir di kantor desa dan ternyata menarik biaya parkir sebesar Rp 10.000,-. Wah mahal sekali hanya untuk sebuah motor. Tapi ya sudah, namanya juga tempat wisata yang air mineral pun dapat dua atau tiga kali lipat harga asli.

Harga masuk ke Farmhouse sebesar Rp 20.000,-/orang dan itu sudah termasuk susu murni Lembang dengan varian rasa. Mungkin murah, tapi mungkin juga itu adalah strategi agar setiap pengunjung seolah membeli susu yang biayanya ditanggung pada setiap tiket. Wah untung banyak juga jika seperti itu. Karena namanya juga Farmhouse Susu Lembang, wajar jika core-bussiness nya adalah penjualan susu.

Ternyata di sana sedang ada Oktoberfest. Terdapat panggung di mana ada beberapa penampilan dari Farmhouse yang cukup menghibur khususnya penampilan-penampilan yang bergaya Eropa. Memang lokasi ini dibuat dengan nuansa Eropa di beberapa titik. Juga banyak pengujung yang menyewa pakaian Eropa untuk berfoto. Mungkin agar terlihat sedang bertamasya di Belanda.

Rumah Hobbit? Wow antrian untuk berfoto sangat panjang. Kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan ke tempat lain dari pada menghabiskan waktu di antrian foto. Banyak titik-titik yang menarik yang salah satunya adalah gembok cinta. Di sana terdapat pagar dengan gembok-gembok lengkap dengan nama-nama pasangan yang tercantum di sana. Walaupun sebenarnya hal seperti itu sudah biasa karena sudah banyak di berbagai tempat wisata.

Hujan pun turun. Kami sempat menunggu di salah satu sudut dengan kedinginan. Namum setelah hari semakin sore dan setelah menunaikan shalat ashar kami bergegas ke Rumah Hobbit. Akhirnya kami dapat berfoto di sana walau sambil hujan. Dan sebelumnya pun kami berfoto di replika rumah Bilbo yang kedua dengan ukuran yang lebih kecil dan tidak lebih menarik. Perjuangan berfoto di rumah yang utama pun cukup sulit karena genangan air akibat hujan.

Oh iya, untuk kamar mandi dan tempat ibadah bisa dikatakan cukup baik. Namun untuk lokasi beribadah cukup kurang menyenangkan ketika tempat wudhu dan tempat shalat antara pria dan wanita tidak terhalang oleh kain sehelai pun. Mungkin ini dapat disayangkan mengingat privasi untuk wanita ketika persiapan shalat dirasa kurang pantas jika terlihat oleh pria.

Alhasil kami pun pulang ketika langit sudah gelap dengan keadaan hujan. Perjalan pulang pun menjadi macet seiring dengan selesainya orang-orang bertamasya dari Lembang. Cukup melelahkan karena hujan namun menyenangkan karena dapat melihat hal baru yang selama ini tak sempat dikunjungi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s