KRI Regional 2 2016: DRAMATIS!

WP_20160430_19_41_07_Pro_edited (FILEminimizer)

Tim Robotika PNUP.

Kemarin (30/4) adalah final dari Kontes Robot Indonesia (KRI) Regional 2 yang kebetulan tahun ini menjadi tuan rumah. Tentu saja pertandingan dilaksanakan di Gymnasium UPI. Yap, gedung tepat di sebelah GIK tempat kuliah. Acara ini sebenarnya sudah berlangsung dari kemarin hari, namun aku baru sempat menyambangi Gymnasium pada Minggu sore. Toh, ujar Faisal yang pernah menonton KRI mengatakan bahwa momen yang paling seru adalah di hari terakhir sore hingga malam karena memasuki tahap-tahap final. Akhirnya aku bersama Astri, Tia, Muthi, Dita, Arzaaq, Faisal, Rendy dan Ali berangkat ke Gymnasium untuk menyaksikan kontes robot mahasiswa nomor satu di Indonesia tersebut.

Ternyata suasana di dalam memang sangat ramai. Lapangan di gymnasium disulap menjadi arena tarungnya robot-robot. Yang paling indah tentu saja arena untuk kategori sepak bola dengan rumput sintetisnya. Namun yang paing menarik perhatian adalah kategori ABU dengan arena yang paling luas dan pertandingan yang paling menarik.

Dan yang ditunggu-tunggu pun datang. Tim dari KOMPOR UPI yang mewakili kampus tuan rumah bertanding melawan tim dari Polteknik Negeri Ujung Pandang (PNUP). Namun ternyata sayang tim Isola 229, nama tim robotika UPI harus kalah skor dengan tim robotika PNUP. Dan setelah itu perhatian kami pun sangat fokus pada arena kategori ABU.

Ternyata ada pertandingan yang sangat seru antara ITB melawan PNUP di semifinal. Padahal kalau UPI menang melawan PNUP, maka UPI akan berhadapan dengan ITB. Pertandingan pun dimulai. Kedua robot saling menyusul hingga akhirnya sama-sama mendapatkan poin 60 hingga waktu habis. Penonton pun bersorak-sorak. Aku yang satu tribun dengan pendukung ITB takjub melihat dukungan dari supporter ITB dengan yel-yelnya. Dan saat penentuan pemenang, juri mengatakan bahwa tim PNUP terkena penalty satu kali dan menyebabkan poinnya menjadi 55. Tim dari ITB pun berada di atas angin. Namun siapa sangka ternate ITB juga melakukan penalty dan dikenakan pengurangan poin yang sama. Sehingga pemenang ditentukan oleh waktu untuk mendapatkan poin tersebut. Dan secara dramatis, PNUP mengalahkan ITB! Walaupun akhirnya terlihat dari pihak ITB protes terhadap keputusan juri.

Di semifinal yang lain, UI berhasil melibas tim dari Telkom University. Ada yang aneh dari pertandingan tim dari UI yaitu robot yang tidak berusaha naik ke tiang untuk menempelkan baling-baling. Karena tidak paham dengan peraturannya aku berpikir bahwa harus menunggu tim lawan sampai di poin 60 juga. Namun namapaknya tidak begitu.

Sebelum final antara UI dan PNUP, pertandingan pun dilanjutkan pukul 19.00 WIB untuk istirahat shalat maghrib. Kami makan malam bersama dulu di daerah Cilimus sebelum pertandingan dan shalat di GIK. Dan ternyata rapat juri diadakan di perpustakaan GIK karena GIK adalah gedung terdekat dari gymnasium. Kami pun kembali ke gymnasium saat perlombaan kategori seni tari berlangsung. Yap, belum terlambat untuk kategori ABU.

Ternyata ITB vs Telkom pun sangat seru untuk merebutkan posisi ke-tiga. Kejar-kejaran saat menuju poin 60, bahkan terlihat bersama dari pojok lapang ke tengah untuk menempel baling-baling. Naiknya robot pun saling kejar diiringi dengan yel-yel kedua kubu dari tribun yang bersebrangan. Pertandingan ini menurutku bukan hanya masalah pertandingan perebutan posisi ke-tiga, tapi lebih ke gengsi kampus IT mana yang lebih hebat di Bandung. kita tak dapat mungkiri bahwa ITB sangat superior di bidang teknologi juga dengan Telkom yang digadang sebagai salah satu yang terbaik di bidang tersebut pula di kalangan universitas swasta. Dan pertandingan pun akhirnya dimenangkan oleh ITB karena Telkom melakukan dua kali penalty sedangkan ITB hanya satu kali penalty.

WP_20160430_17_43_16_Pro_edited (FILEminimizer)

Supporter ITB.

Pertandingan final pun diprediksi antiklimaks setelah pertandingan seru antara ITB dan Telkom University. Dan anggapan pun pasti UI yang akan keluar sebagai juara karena melihat robotnya sangat lancer dan cepat menuju poin 60. Dan jika dilihat dari nama kampus pun tentu semua orang akan mengatakan UI yang akan memenanginya. Namun siapa sangka? Ternyata sebuah kejutan! Robot UI sempat terjatuh keluar lintasan sedangkan robot dari PNUP melesat dengan cepat! Sorak pun bergemuruh hingga akhirnya UI pun dapat menyusul ke poin 60. Namun apa yang terlihat ternyata di luar dugaan. Robot UI tidak bisa naik! Dan peserta pun hanya diam menunggu di pojok arena. Sedangkan tim dari PNUP terus mencoba robotnya menempelkan baling-baling.

Apakah tim dari PNUP sudah menang? Belum. Karena bisa saja di saat percobaan tersebut mereka melakukan penalty dan poin mereka berkurang sehingga UI yang memenangkan pertandingan tersebut. Waktu pun berakhir. Penjurian pun dilakukan. Kedua tim terlihat tegang. Pertandingan pun sangat seru bahkan jauh dari prediksi antiklimaks. Setelah juri mengumumkan, ternyata dari kedua tim tersebut tidak melakukan sama sekali penalty! Penonton pun bersorak. Akhirnya pemenang ditentukan oleh waktu yang dibutuhkan untuk mencapai skor tersebut. Kalau tidak salah UI membutuhkan waktu 1 menit lebih 30 detik. Sedangkan PNUP hanya butuh 39 detik! Yap! PNUP menjadi juara setelah melibas ITB dan UI. Sungguh luar biasa.

Dari malam itu kita dapat belajar bahwa kerja keras dapat mengalahkan sesuatu yang dianggap lebih besar, lebih kuat bahkan tak tertandingi. Selamat untuk tim dari PNUP. Terima kasih telah memberika pelajaran berharga malam itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s