Semarang: Dari Lawang Sewu Hingga Pecinan

Mbaaaaakkkk!!! Akhirnya bertemu juga aku dengan Si Mbak di Semarang. Sebelumnya aku diantar oleh Kusmahendra ke Tembalang walau sempat kehujanan dalam perjalanan. Kami menuju Undip dengan melewati jalan yang berbeda dari saat perjalanan ke Unnes yang membuat aku makin dapat mengetahui seluk beluk kota Semarang. Hingga akhirnya kami tiba di POM Bensin Undip dan menunggu Si Mbak di sana.

Tentu saja pesanan Dilla langsung aku berikan. Dan sesuai janjinya, aku diajak berkeliling Undip dan Semarang. Yes. Pertama kami mengelilingi Undip yang ternyata lebih besar pula dari Unnes. Kondisi kampus seperti itu memang mengharuskan mahasiswanya menggunakan kendaraan motor, tak seperti UPI yang harus berjalan kaki. Kami melewati semua fakultas, rektorat dan sempat berfoto di depan patung Pangeran Diponegoro yang dikatakan menjadi ikon dari Undip sendiri. Setelah itu kami pun menuju suatu tempat yang ternama di Semarang: Lawang Sewu.

Asyik akhirnya aku dapat mengunjungi bangunan tua Belanda yang melegenda itu. Dan saat itu kebetulan sedang ada acara dari Pertamina. Tiketnya Rp 10 ribu per orang dewasa dan aku baru tahu jika Lawang Sewu adalah bekas stasiun yang akhirnya terkonfirmasi karena ternyata Lawang Sewu diurus oleh PT KAI. Kami masuk ke dalam menjelang maghrib. Justru karena itu membuat lampu-lampu ungu di sekitar gedung dinyalakan yang membuat gedung tersebut semakin terlihat historis.

Aku pun mendapat kesempatan untuk shalat maghrib di sana. Ternyata mushala nya pun menggunakan salah satu ruangan yang ada di sana. Toilet berdiri untuk laki-laki pun menggunakan khas zaman Belanda. Pokoknya sangat berasa historis sama halnya dengan Villa Isola di UPI. Aku pun meminta Dilla untuk mengambil beberapa foto sebagai bentuk kenang-kenangan di Lawang Sewu. Kami juga sempat menuju ke Tugu Muda Semarang. Walau akhirnya dari sana aku juga meminta untuk diambilkan foto dengan latar Lawang Sewu, hehe.

Dan sebelum pulang ke Bandung, aku diajak Si Mbak ke Pecinan Semarang untuk wisata kuliner. Ternyata sangat ramai. Kami memberli sedes: sego pedes yaitu nasi box yang diisi oleh telur, udang, dan diaduk denagn sambal. Wah, ternyata enak juga ditambah dengan suasana pecinan yang ‘kuliner banget’. Di sana pula kami mengobrol mengenai masa-masa ketika SMA dan membicarakan tentag kuliah yang semakin membuat pusing, hehe.

Akhirnya Si Mbak mengantar aku ke Tawang untuck pulang. Sayang sekali ternyata tempat tunggu di luar boarding pun ternyata khusus untuk penumpang. Mungkin ini salah satu kelemahan stasiun di Semarang. Jadi Dilla hanya bisa mengantarku sampai depan pintu tanpa duduk. Tapi terima kasih banyak ya, Mbak. Sudah menemani jalan-jalan keliling Semarang. Maaf merepotkan karena brownies pesanan itu tidak cukup membayar kesenangan jalan-jalan di Semarang sore hingga malam itu. Hehe.

Sampai akhirnya kereta pun berangkat pukul 20.43 WIB dari stasiun di Tawang dan aku pun tiba di Bandung sekitar 04.30 WIB. Yes, mission completed!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s