Ketika ‘Eksekutif’ Menjadi ‘Event’

oleh Destanti Fatwakhyuni

Seperti yang Kita tahu pada umumnya bahwa lembaga di negara kita terdiri dari 3, yaitu yudikatif, eksekutif, dan legislatif. Begitu pula dengan miniatur negara ini di kampus mempunyai lembaga dengan fungsi serupa, yaitu organisasi. Pastinya setiap kampus mempunyai ciri khas masing-masing mengenai sistem organisasi di dalamnya, umumnya menerapkan lembaga legislatif dan eksekutif. Secara garis besar sudah kita ketahui, bahwa lembaga legislatif berhubungan dengan undang-undang, pengawasan, dsb. Sedangkan, eksekutif melaksanakan kebijakan. Dalam KBBI pun dijelaskan bahwa eksekutif berkenaan dengan pengurusan (pengelolaan, pemerintahan) atau penyelenggaraan sesuatu.

Berbicara dalam lingkup mahasiswa, entah legislatif maupun eksekutif erat kaitannya dengan pergerakan mahasiswa atau pemuda. Mengenai hal tersebut, bukankah cukup mengajak Kita flashback ke bulan Mei tahun 1908 ketika organisasi Boedi Oetomo didirikan? Organisasi pergerakan dari para mahasiswa untuk membuat perubahan di negaranya, yang kemudian diikuti ribuan pergerakan lainnya, hingga kita tahu muncullah ikrar Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, lalu terjadinya tragedi penculikan Soekarno ke Rengasdengklok oleh para pemuda untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 silam.

Luar biasa melihat perjuangan tersebut, tetapi ketika pergerakan mahasiswa dikerdilkan begitu saja dari Badan Eksekutif Mahasiswa menjadi Badan Event Mahasiswa, lucu bukan? Hehe. Coba bayangkan ketika mahasiswa saat itu fokus membuat event. Mungkinkah sekarang kita bisa dengan tenang berpergian tanpa ancaman? Mungkinkah sekarang kita bisa merasakan bebasnya berpendapat? Masih sanggupkah kita jadi saksi pembangunan negara yang terus-terusan terpusat sejak Orde Baru? Sekarang saja kita merasa sesak bukan di sini? Jika tugas eksekutif hanya membuat event, untuk apa mahasiswa pada tahun 1998 dulu harus menebus reformasi dengan nyawa? Rasanya sesak ya melihat pahlawan reformasi yang berjuang sangat keras dahulu, sekarang dengan mudah menyebutkan bahwa pada dasarnya Badan Eksekutif adalah pembuat event.

Bayangkan yang terjadi jika seluruh Badan Eksekutif hanya fokus membuat event dengan indikator kesuksesannya dari jumlah massa yang hadir saat pelaksanaan, juga dengan ribuan sponsor yang terpampang di poster eventnya -yang katanya- meningkatkan nama baik. Badan Eksekutif fokus membagi diri menjadi divisi-divisi untuk menyukseskan event yang diagungkan seluruh anggotanya. Hehe kadang lucu ya, hidup hanya sekedar untuk menjadi divisi acara, divisi sponsor, berusaha menjual tiket seminar hingga sold out, dan sebagainya.

Betapa seriusnya Mereka itu mengusahakan event yang hanya 7 hari dengan mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya hingga berbulan-bulan lamanya. Serius mereka pun diikuti oleh seriusnya para ‘pemain intelek’ pengambil kebijakan yang begitu asyik menggerogoti hak mahasiswa yang hanya fokus buat event. Ketika semua mahasiswa buat event, siapa yang memberikan feedback bagi para pengambil kebijakan? Siapa yang akan mempengaruhi kebijakan para ‘pemain intelek’ hingga terciptanya sistem yang adil?

Ketika pergerakan mahasiswa dilihat dari event, siapa yang akan mengkader? Akankah ada regenerasi organisasi disertai perbaikan tanpa kaderisasi? Ketika kesuksesan Badan Eksekutif dilihat dari event, untuk apa capek-capek merumuskan dasar hukum organisasi? Bukankah organisasi yang baik yang dapat menjalankan roda organisasi nya sesuai dengan dasar hukum seperti Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Garis Besar Haluan Kerja ? Setelah capek-capek lalu diabaikan begitu saja. Kalau begitu, apakah dasar hukum hanya untuk formalitas?

Ayolah, yang katanya iron stock dan social control itu parameternya hanya kesuksesan event? yang bahkan event tersebut hanya salah satu contoh saja dari pergerakannya, padahal ada puluhan program kerja yang sama penting lainnya yang sengaja tidak dijadikan indikator penilaian kesuksesan. Sudah sebaiknya mulai saat ini Kita sama-sama membuka pikiran, bahwa pergerakan mahasiswa melalui Badan Eksekutif tidak sesempit itu. Mahasiswa berkolaborasi dalam organisasi, khususnya Badan Eksekutif untuk menciptakan perubahan dan perbaikan, mungkin saja salah satunya adalah event, tapi itu bukan satu-satunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s