HATERS GONNA HATE!

Pertama aku bukan seorang ahli agama. Tapi ini adalah bentuk kebingungan dan kebimbangan. Jika tidak suka atau selisih pendapat, maka kebenaran kita berbeda. Jangan paksa aku untuk mengakui kebenaran personal kalian yang belum tentu benar, walau aku tahu pada akhirnya kalian akan terus berkomentar.

Siap?

Oke.

Diawali dari masalah yang setiap tahun selalu diperdebatkan, yaitu pantaskah seorang pemimpin bahkan pemimpin segala umat, bukan pemimpin hanya kaum muslim untuk mengucapkan selamat pada hari raya kaum tertentu. Kali ini tentu saja natal. Postingan di media sosial kadang membuatku muak dan bosan setiap tahun harus membaca bacaan yang sama tentang hokum tersebut. Haram atau halal. Pihak lainnya berkata boleh, atas nama toleransi, bahkan hingga membawa fatwa MUI yang memperbolehkan. Pihak lain tentu saja yang mengharamkan. Alasannya tentu saja sudah sangat familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Aku sendiri di pihak yang berkata boleh. Aku tidak akan membawa fatwa MUI, hanya aku paham bahwa semua amal bergantung pada niat. Niatku bukan untuk merusak akidah, hanya untuk memberikan rasa nyaman pada kaum non-muslim dengan menghargainya. Stop, di sini aku tahu kalian akan berbeda pendapat denganku dengan segala alasan. Dan mungkin di sini aku hanya menjadi bagian kecil dari bagian besar yang menentangku. Tak masalah, ini adalah buah pemikiran.

Apa aku takut akan dikucilkan karena hal ini? Ya. Aku sangat takut. Mungkin sama seperti Turing yang dianggap gila dengan membuat sebuah mesin yang dikata akan mampu memecahkan Enigma, atau Einstein yang dianggap gila dengan relativitasnya. Tapi inilah aku. Tumbuh besar berkeliling pulau Jawa. Merasakan menjadi bagian masyarakat muslim yang berbeda-beda, bahkan pernah merasakan di satu kawasan hanya keluargaku yang berbeda tanggal Idul Fitri dari tetangga yang lain. Aku juga pernah merasakan menjadi kaum minoritas Sunda di tengah orang Jawa. Dan itu mengajarkanku bahwa setiap orang akan punya kebenaran masing-masing yang membuat dirinya menjadi paling benar secara perspektif dirinya sendiri.

Jika pada setiap kasus, pemahaman ‘setiap perbuatan bergantung pada niat’ selalu digunakan. Mengapa tidak pada kasus ini? Jika sebuah bencana menimpa orang baik dan dikatakan bahwa itu adalah sebuah ujian, mengapa dikatakan azab jika tertimpa pada orang jahat? Semua itu tanpa sadar akan diucapkan sesuai dengan kondisi yang menguntungkan kita pada saat itu.

Mungkin tulisan ini akan membuat kalian semakin membenciku. Memang benar kata Einstein, orang yang memiliki pemikiran berbeda pasti akan dikucilkan, dianggap aneh hingga apa yang dirubah memang membawa manfaat. Bukan berarti aku menyebut diri sendiri sebagai revolusioner, tapi setidaknya aku tahu menjadi orang yang berpikir berbeda dari banyak orang.

Maaf jika aku menggunakan pemahaman ‘setiap perbuatan bergantung pada niat’ dalam segala aspek asalkan tidak merugikan orang lain, bukan saat kondisi di mana menguntungkan kita. Haters gonna hate. I know it. And I don’t care.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s