Supir Angkot vs Polisi

Siang tadi aku pulang dari BEC untuk membeli batre laptop. Cukup menguras uang hasil proyek dengan Faisal, namun itu lah prioritas dan sesuatu yang aku tunggu untuk membelinya ketika uang itu cair. Setelahnya aku pulang melewati Gramedia dan menunggu angkot di depan Bandung Indah Plaza sambal menikmati hiruk pikuk Bandung.

Di tengah perjalanan, angkot yang kutumpangi ternyata diberhentikan oleh polisi yang sedang mengadakan razia. Setelah terlihat berdiskusi dengan polisi, supir angkot yang terlihat masih muda itu pun dating dan kembali menyetir mobil. Seorang ibu yang duduk dekatnya bertanya, “Habis berapa mang?”. Dan supir tersebut menjawab Rp 40.000,-.

Akhirnya si ibu memberi uang sebesar yang supir tersebut keluarkan sambil memberi simpati pada supir angkot tersebut. Menarik memang melihat hukum di Indonesia. Mungkin supir angkot tersebut salah karena tidak memiliki SIM. Tapi apakah polisi yang akhirnya menjual hukum dengan Rp 40.000,- bias dianggap benar walau beralasan ingin membantudan meringankan beban yang ditilang?

Si ibu tadi hanya mengedepankan rasa kemanusiaannya melihat supir angkot yang kehilangan uang yang mungkin jumlah tersebut adalah jumlah keuntungan dari sekali rute yang dia jalani. Namun hukum tetap lah hukum, tanpa harus pandang bulu.

Jadi, siapa yang salah? Polisi atau supir angkot?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s