Diracuni Deduksi

Masih ada kaitannya dengan tulisanku sebelumnya tentang Sherlock Holmes. Sepertinya aku mulai berpikir seperti dia dalam hal deduksi, atau Ilmu Mengambil Keputusan di episode pertamanya. Walau tak sebrilian Sherlock, namun cara berpikir seperti ini sangat aku nikmati. Bermula dari chat di WhatsApp dengan beberapa presiden dan wakil presiden KEMAKOM terdahulu untuk menemukan sebuah sejarah yang valid, aku menggunakan beberapa fakta, perhitungan, logika untuk mendapatkan sebuah kesimpulan. Dan itu sangat tak biasa. It’s amazing.

Sewaktu berangkat ke kampus, aku melihat orang tua dan seorang anak, mungkin mahasiswa baru yang dari gerak-geriknya sedang mencari kostnya. Tak pernah seyakin in. Namun deduksiku kuat mareka sedang mencari kost baru untuk anak laki-lakinya yang menjadi mahasiswa baru di UPI. Tapi kenapa baru mencari sekarang? Ah! Karena mereka berasal dari tempat yang jauh dari Bandung. Pergi ke Bandung dekat dengan hari MOKA-KU akan dimulai agar terkesan sekalian. Dari sana tidak mungkin dia adalah mahasiswa baru via SBMPTN atau SM, karena pasti akan langsung mencari kostan saat daftar ulang. Waktu yang terlalu dini untuk mencari kost pada saat mereka ke Bandung untuk daftar ulang si mahasiswa baru. Yap! Mahasiswa itu adalah mahasiswa baruย  via SNMPTN!

Apakah aku benar? Oh tentu tidak. Hanya mencoba berpikir seperti Sherlock. Dan itu menarik. Terlebih saat ada kabar bahwa beberapa mahasiswa baru Ilmu Komputer sedang mengerjakan pekerjaan MOKA bersama di AL-Furqan. Aku bergegas ke sana. Mencari beberapa orang yang aku kenal saat RAM untuk memastikan perkumpulan mana yang berisi mahasiswa baru yang aku maksud. Karena sangat banyak yang berkumpul saat itu.

The game is on!, Sherlock Holmes!

Dan aku akhirnya menemukannya. Aku menghindari orang-orang yang mungkin kenal denganku. Mendekati mereka. Tapi mungkin dari mereka ada yang sadar. Padahal maksudku memata-matai bukan untuk berniat jahat. Justru aku senang mereka dapat merancang komunikasi yang baik antara sesama dan bekerja sama sebelum MOKA dimulai. Sama seperti yang aku lakukan 2 tahun silam.

Di Al-Furqan pun aku bertemu dengan keluarga itu. Keluarga yang mencari kostan, keluarga mahasiswa baru SNMPTN. Dan itu setidaknya menguatkan deduksiku bahwa ia adalah mahasiswa baru UPI. Mereka parkir di Al-Furqan, tempat parkir yang terdekat ketika masuk ke UPI lewat gerbang utama. Yap, mereka parkir di sana karena mencari kost melalui kampus. Tapi tempat tadi aku bertemu dengan mereka adalah di Geger Asih yang stategisnya untuk mahasiswa FPMIPA atau FPOK.

Jadi sangat kuat dugaanku. Karena mereka harus berjalan mencari tahu di mana letak kampus jurusan mahasiswa baru tersebut berada di UPI. Dan akhirnya mereka keluar mencari kost melalui jalan-jalan kecil. Mahasiswa itu berbadan sedikit gemuk, dan berkacamata. Bukan FPOK, dia mahasiswa baru FPMIPA! Oh… Ini menarik Sherlock! Menarik untuk berpikir seperti ini. Haha.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s