Nasi Liwet Beruang Kutub

Beruang Kutub~

Beruang Kutub~

Selasa, 28 Juli 2015. Sore itu aku dan kawan-kawan yang sering disebut sebagai petinggi BEM KEMAKOM (Nondep + para menteri departemen, dan kami menyebut diri kami dengan sebutan Beruang Kutub) mempunyai sebuah rencana makan bersama. Membuat nasi liwet dengan lauk pauk yang sederhana untuk makan malam bersama yang akan dilaksanakan di kostan Anshar. Namun listrik di kostan Anshar nampaknya mati. Tak mungkin kami harus bergelap-gelapan saat makan malam sedangkan kami masih memungkinkan untuk mendapatkan tempat yang terang. Akhirnya kami sepakat untuk pindah di kostan Dheana yang juga kostan Tia, Ghina dan Mutia.

Memasak beberapa menu sederhana, seperti ikan asin, tempe, tahu dan tumis kangkung, para perempuan terlihat sibuk sambil tertawa di atas. Sedangkan para lelaki sibuk membuat nasi liwet di lantai dua. Ah, tidak banyak memang, hanya ada aku, Ali, Anshar dan Egi. Anam pun menyusul setelah maghrib tuturnya. Tapi sebenarnya aku sama sekali tak ikut membuat nasi liwet tersebut. Maklum, saat itu aku sedang mengerjakan sebuah tugas untuk menuliskan 50 masalah pribadi untuk matakuliah Kewirausahaan. Tapi tak apa, karena beras yang dibuatnya pun diambil dari berasku untuk makan sehari-hari di kostan.

Masak masak masak.

Masak masak masak.

Nampaknya menjelang maghrib makanan telah selesai, begitupun dengan nasi liwet. Sebelum makan kami melaksanakan ibadah shalat maghrib di ruang tengah. meja-meja dan kursi dipinggirkan. Untung saja pengguni kost selain KEMAKOM sedang tak berada di kostan tersebut. Kami pasti mengganggu dengan suara kami.

Kiri porsi Egi. Kanan porsiku.

Kiri porsi Egi. Kanan porsiku.

Oh God, Dheana terlalu banyak memberiku nasi saat itu. Dan porsiku saat itu menjadi yang paling banyak di antara yang lainnya. Benar-benar banyak. Mungkin hampir dua kali lipat dari porsi yang Egi dapat. Akhirnya kami pun memulai makan malam setelah beberapa saat menunggu Anam yang tak kunjung datang. Walau akhirnya dia datang setelah sebagian dari kami sudah menghabiskan setengah dari makanan porsinya masing-masing.

Makan malam itu memang membuat aku tak bergerak. Sisa makanan pun “dilelang” dengan cara memutar pulpen dan akan berhenti menunjuk orang yang harus memakan tahu dan tempe yang tersisa. Aku pun hanya sanggup mengibarkan bendera putih dari kertas yang diminta dari Ali untuk menunjukan ketidaksanggupan mengikuti permainan.  Dan pada permainan itu, Irma mendapatkan bagian paling banyak.

Santaaaapp!

Santaaaapp!

Walau tak semua menteri hadir di acara makan malam kali ini. Tapi cukup menarik karena sebuah rencana yang terencana hanya selalu menjadi sebuah wacana dan rencana. Dan kali ini kami bisa berkumpul bersama untuk menyegarkan pikiran. Yap, cukup untuk menyegarkan pikiran dari kepenatan dan tekanan selama berjuang di kuliah atau organisasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s