Review: DRONES

Beli DRONES.

Eits, ini bukanlah review profesional. Hehe. Hanya sebagai penilaian seorang fans pada album terbaru band favoritnya. Yap, tanggal 8 Juni 2015 kemarin Muse resmi merilis album ke-7 mereka yang bertajuk Drones. Ada beberapa hal menarik yang membuat album ini terasa spesial terutama bagi penggemar Muse tentunya. Album yang memecahkan rekor penjualan tercepat di tahun ini juga menjadi album pertama Muse yang dapat meraih posisi puncak di US Top 200 Billboard setelah menggeser Taylor Swift dengan albumnya 1989.

Di awali dengan lagu Psycho yang “dibocorkan” oleh Muse di awal membuat banyak yang mengira bahwa di album ini mereka akan kembali menjadi band rock yang kelam seperti album kedua. Terlebih setelah mereka menjadi headline untuk Download Festival. Namun spekulasi berubah ketika muncul track-track lain yang lama-lama menyurutkan anggapan tersebut. Tentu saja lagu Mercy menjadi titik di mana mereka memainkan musik dengan nuansa album Black Holes & Revelations. Terlalu panjang untuk menjelaskan betapa spesialnya album ini, karena album ini merupakan sebuah album musikal yang mempunyai benang merah cerita utama. Cerita tersebut bisa dilihat di siniΒ dari akun Twitter Muse Fans Yogyakarta.

Cover Artwork Drones

Oke, sebenarnya di album yang dikatakan sebagai album terbaik oleh Matt ini memiliki lagu-lagu dengan genre yang beraneka. Bahkan “Revolt” dan “Defector” sangat kental dengan nuansa Queen yang juga membuat Muse mendapat kritikan mengenai hal ini. Mungkin yang disayangkan adalah aliran lagu yang terus diulang-ulang seperti Psycho dan Defector. Jika bukan fans Muse, mungkin pendengar akan bosan dan berhenti mendengarkan lagu tersebut. Lagu Defector pun terlalu datar, tidak ada bagian reff yang klimaks. Semuanya dibuat datar. Mungkin orang akan berpikir, “Kok lagunya gini-gini aja?”. Tapi jangan tanya jika fans yang mendengarkannya.

Yang mendapat sorotan di album ini adalah lagu The Globalist yang memiliki durasi 10 menit. Ini adalah lagu dengan durasi terpanjang yang pernah dirilis oleh Muse. Tapi sekali lagi, jika bukan fans mungkin satu menit pertama pendengar sudah akan bosan dengan intro musik yang terlalu bertele-tele. Ditambah dengan lagu Drones yang terdengar bernuansa seperti lagu rohani, tak sedikit Muser yang menanggapi lagu ini dengan tanggapan yang berlawwan arah.

Tapi saya jamin album ini sangat direkomendasikan untuk didengarkan. Album yang saat ini menjadi album terlaris di dunia ini bagaikan menuliskan sebuah novel menjadi sebuah albmum yang siap dinikmati oleh pendengar musik.

Iklan

2 thoughts on “Review: DRONES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s