Untuk Kita Yang Gagal SNMPTN (Update)

Tulisan 10 Mei 2015, di-update tanggal 11 Mei 2016 dengan beberapa tambahan cerita. Semoga postingan ini akan selalu di-update tiap tahun.

Ini yang saya hadapi 2 tahun lalu.

Ini yang saya hadapi 3 tahun lalu.

Mungkin tulisan ini menjadi tulisan curhatan yang sudah basi untuk yang mengenalku. Tapi, aku akan membagi cerita yang cukup menjelaskan bahwa teman-teman yang gagal di SNMPTN bukan berarti menemukan sebuah kebuntuan. Masih ada jalan lain yang tentu lebih baik. Pasti bosan kan mendengar kata-kata tersebut dari orang-orang? Yap, tapi memang begitulah kenyataannya.

Dan aku yakin masalah kegagalan di SNMPTN paling pedih dirasakan oleh mereka yang 99% dipercaya akan lolos SNMPTN. Dan itulah yang terjadi padaku. Selama 6 semester aku menjadi ranking 1 di kelas, beberapa kali menjadi juara umum ke-1 (beberapa semester menjadi urutan ke-2), membawa nama sekolah menjadi satu-satunya SMA di Sumedang yang masuk kejuaraan besar seperti masuk babak knock-out LCTM Unsil se-DKI, Jawa Barat, Banten dan Cilegon dan masuk 10 Besar Newton Physics Olympiad di Universitas Padjadjaran. Dengan nilai rapot yang juga selalu tinggi (hanya ada satu mata pelajaran yang mendapat nilai kepala 7, Biologi di semester pertama) pasti muncul rasa percaya diri akan melewati penjaringan masuk PTN via SNMPTN ini.

“Maaf, Anda tidak dinyatakan lulus SNMPTN 2013”

Aku berekspektasi untuk masuk ITB. Aku mendaftar di STEI dan FMIPA ITB di pilihan kampus pertama dan 2 jurusan di FPMIPA UPI. Hati kecilku berkata, kalau tidak masuk ITB pun pasti di UPI diterima. Apalagi aku sembari melampirkan beberapa sertifikat prestasi dan pengalaman, salah satunya sertifikat pelatihan oleh Prof. Chatief Kuntajaya, Ph.D, yang waktu itu juga sedang menjabat sebagai Presiden Olimpiade Astronomi Internasional. Namun senja itu menjadi senja yang kelam. Ketika membuka website pengumuman SNMPTN, tulisan “Maaf, Anda tidak dinyatakan lulus SNMPTN 2013” berlatar warna merah, aku  tak mampu berkata-kata.

Tak sampai hanya di sana, perih mulai makin terasa ketika beberapa guru mengirim pesan, bertanya masuk ke pilihan ke berapa aku di SNMPTN. Dengan berat hati aku membalas pesan tersebut dengan pesan yang aku yakin sebuah kekecewaan. Beberapa guru tak membalas lagi, mungkin terkejut. Beberapa lagi membalas memberi semangat. Semakin perih lagi ketika tahu bahwa teman-temanku yang secara ranking di bawahku masuk ke universitas favorit bahkan dengan jurusan yang favorit pula. Dua orang masuk Hubungan Internasional di kampus ternama yang membuat saya bertanya “What’s wrong with me?”.

Tanggapan mulai bermunculan. Dan kegagalan saya saat itu menjadi headline di sekolah. Ada yang memberi semangat, ada pula yang memberikan tanggapan negatif. Tanggapan itu berupa sindiran bahwa aku terlalu pede dalam memilih, terlalu tinggi dalam memilih kampus, dan semua yang melihat dari sisi negatif kejadian yang kualami. Ada yang mengatakan bahwa aku terlalu angkuh untuk memilih ITB dalam pilihan, karena dari SMA-ku cukup sulit untuk menembus ITB. Dan mungkin perkataan mereka akan terbungkam dengan sendirinya ketika ada adik kelasku yang diterima di FTI ITB via SNMPTN. Dan yang paling aku benci adalah ketika ada spekulasi untuk apa berjaya seperti aku di sekolah, namun pada akhirnya “kalah nasib” dengan yang di bawahku pada saat masuk ke PTN. Di sana aku geram. Terserah Anda akan menertawakanku, namun aku ingin jujur bahwa aku sempat menangis tidak percaya. Terdengar lebay? Mungkin iya, tapi tidak dengan mereka yang juga merasakan posisiku.

Berlian tetap berlian walau berada di kolam lumpur!

Tapi dari sana aku bangkit. Aku ingin membuktikan bahwa berlian tetap berlian walau berada di kolam lumpur! Aku belajar keras untuk SBMPTN. Dan percayalah, akan selalu ada orang baik yang akan menolong. Terutama orang tua kita yang menjadi motivator utama. Sampai sekarang aku masih terbayang ketika mama memberi semangat agar aku bangkit ketika aku benar-benar jatuh di kegagalan tersebut. Namun itu membuatku lebih kuat. Aku terus belajar, dibantu oleh juara umum di SMA-ku waktu itu, aku berusaha mempelajari yang dulunya saya hindari atau tak suka. Karena aku tidak mau kecewa untuk kedua kalinya.

Pilihan saya di SBMPTN pun berbeda. Saya memilih UPI. Takut? Ya, jujur aku takut untuk memilih ITB kembali dengan waktu belajar aku yang singkat untuk “perang” ini. Tapi tak lantas membuat aku menaruh pilihan di jurusan yang “aman”. Saya cari jurusan dengan tingkat keketatan tertinggi di UPI di bidang saintek, Ilmu Komputer! Korelasi dengan pilihan pertama saya di SNMPTN (STEI ITB) aku akhirnya memilih jurusan ini.

SBMPTN pun dimulai. Aku berada di dua hari yang menentukan masa depanku. SMA BPI 2 Bandung menjadi tempat perang tersebut. Setelah menyelesaikan tes SBMPTN, ada rasa percaya diri akan pengerjaan tes tersebut. Hingga akhirnya aku diterima di Ilmu Komputer UPI, ada rasa menyesal kenapa tidak ada secuil keberanian untuk mengambil FMIPA ITB(pilihan kedua di SNMPTN). Padahal aku yakin jika aku memilih FMIPA ITB, sekarang aku berada di kampus idaman yang pertama, bukan di Ilmu Komputer UPI. Dan hal itu selalu terbayang hingga satu tahun aku berkuliah di UPI. Ada rasa sakit ketika aku harus melewati kampus Ganesha ketika menaiki kendaraan umum di Bandung.

Be a hero in your own life!

Well, lama-lama rasa itu berubah. Ingat perkataan di paragraf pertama? Saat orang-orang baik di sekitar kita berkata “Akan ada jalan yang lebih baik” mungkin mendekati titik temu. Aku mulai menikmati keberadaanku di sini. Menikmati perkuliahan di kampus pencetak guru terbaik di negeri ini, tergabung dalam BEM jurusan, ikut acara pengabdian pada masyarakat yang membuatku semakin mensyukuri hidup, memiliki pengalaman menjadi asisten praktikum dengan berbagai bidang keilmuan komputer, menjadi asistan laboratorium multimedia, dikelilingi oleh orang-orang yang menghargai karyaku hingga dipanggil menjadi pemateri desain grafis di Universitas Padjadjaran. Dan aku sempat menjadi wakil presiden BEM di jurusan aku berada dan pernah melaksanakan studi banding ke HMIF ITB, himpunan mahasiswa jurusan idamanku saat dulu tanpa merasa berada di bawah mereka. Dan semua itu belum tentu aku dapatkan jika saya lolos SNMPTN kala itu.

Facebook-20151103-045245

@ Grha Sabha Pramana UGM. Source: FP Gemastik

Cerita pun berlanjut. Aku terus berkembang di sini. Siapa sangka aku bisa menjadi juara 3 se-Indonesia dalam Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang TIK atau yang disingkat GEMASTIK bidang Animasi. Yap, itu adalah kejuaraan paling bergengsi untuk mahasiswa IT di Indonesia yang diadakan oleh KEMENRISTEKDIKTI yang pada waktu itu dilaksanakan di UGM Yogyakarta (Baca cerita bersambungku tentang GEMASTIK di sini). Aku pun sempat diundang ke Universitas Negeri Semarang untuk menjadi pemateri workshop animasi di sana. Wow. Siapa sangka? Dan pada akhirnya aku menjadi Mahasiswa Berprestasi untuk Ilmu Komputer UPI tahun 2016.

Aku akhirnya berpikir, jalan hidup kita tak akan tertebak dan tergambarkan oleh sebuah logika. Saat gagal di SNMPTN untuk masuk kampus favorit, mungkin kita akan berpikir bahwa masa depan kita tak akan lebih cerah dari pada mereka yang lolos ke jurusan favorit kita. Namun semua itu salah. Ternyata itu hanyalah ego. Ternyata kita termakan oleh perkataan dan pandangan masyarakat. Dan ternyata kita hanya memandang masa depan dari sebuah sedotan. Jika memang yang dicari adalah sebuah kesuksesan, sungguh prematur ketika kita mengatakan bahwa masa depan kita tak akan secerah yang kita harapkan saat gagal SNMPTN.

So, hidupmu belum berakhir. Trust in me, ini hanya episode kecil di hidupmu yang indah. Sebuah film tak akan menarik ketika sang pahlawan tidak pernah mengalami “saat-saat sekarat”. Lanjutkan hidupmu, ubah hidupmu, be a hero in your own life!

Iklan

2 thoughts on “Untuk Kita Yang Gagal SNMPTN (Update)

  1. sangat menginspirasi!! saya juga dulu pernah gagal snmptn, pmdk politeknik, pmdp poltekkes, gagal sbmptn, namun sekarang sudah menjadi mahasiswa sem.2 di salah satu poltekkes negeri di Jawa Timur dengan jalur uji tulis . Terima kasih, saya jadi semakin termotivasi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s