Keren! Video Mapping Gedung Merdeka

Gedung Merdeka, Bandung saesaat akan dilaksanakan event video mapping.

Sabtu, 25 April 2015. Sore itu saya berangkat menuju Gedung Merdeka dengan menaiki angkutan umum. Yang pasti tujuannya adalah untuk mengikuti salah satu event peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika, yaitu video-mapping yang akan diputar pukul 19.00 WIB. Sebenarnya ini adalah event yang pertama kali saya ikuti di peringatan KAA kali ini. Karena saya tidak mendaftar menjadi relawan kegiatan dan melewatkan beberapa event seperti parade pada siang harinya. Namun event yang satu ini menarik saya karena akan dilaksanakan video-mapping pada Gedung Merdeka, saksi sejarah bersatunya negara-negara di Asia dan Afrika untuk memilih bersikap tak berkepihakan pada blok barat atau blok timur pada tahun 1955.

Setelah saya sampai di sana, ternyata banyak sekali warga Bandung yang menghabiskan malam minggu bersama rekan, sahabat, keluarga di jalan Asia Afrika. Saya pun mengunjungi Alun-laun Bandung yang pada saat itu sesak dengan warga. Dan itu pertama kalinya saya ke Alun-alun Bandung setelah direnovasi. Sebelum direnovasi, terakhir saya berkunjung ke sana bersama Sefie saat mengantarnya ke stasiun untuk kembali ke Kediri setelah mengantarnya ke Universitas Padjadjaran. Namun bentuk alun-alun yang flat dengan rumput sintetis lebih disenangi warga Bandung. Terlihat dari animo masyarakat yang menghabiskan waktu di pusat kota tersebut.

“Let a new Asia Africa be born!” -Soekarno

Saya pun kembali menulusuri jalan untuk semakin mendekat ke Gedung Merdeka. Semakin dekat dengan Gedung Merdeka, semakin sulit dan sesak pula perjalanannya. Sampai akhirnya saya sudah tidak bisa maju lebih jauh dan duduk sama seperti masyarakat lainnya. Menarik ketika saya dan ribuan warga Bandung duduk di jalan yang biasanya dilalui oleh kendaraan bermotor. Pembawa acara yang hanya terdengar suaranya itu terus meminta agar warga tertib dan tidak terlalu ricuh. Hingga akhirnya pukul 19.00 WIB video mapping dimulai. Itu adalah tayangan pertama, karena akan ditayangkan sebanyak 3 kali mengingat membludaknya warga yang memadati jalan yang menjadi saksi sejarah tersebut.

Ternyata yang membuat video tersebut adalah Sembilan Matahari yang juga memproduksi film Cin’T’a. Video sangat menarik ketika visual yang ditampilkan membuat Gedung Merdeka semakin nampak indah. Namun momen yang paling berkesan adalah saat memutarkan video tahun 1955 dengan diiringi lagu ‘Halo-halo Bandung’. Di tengah pemutaran video terdapat sedikit keributan dari arah alun-alun. Dan ternyata itu adalah mobil acara The Blusukan dari Trans TV. Namun ternyata warga tidak senang dengan kedatangan mobil tersebut yang membuat jalanan makin sesak.

Maybe it will be one of my best saturday night in Bandung.

Singkat ceritanya, saya pun pulang dengan berdesak-desakan yang akhirnya bisa sedikit bernapas lebih luas setelah keluar dari jalan Asia Afrika. Tapi dasar tak hapal trayek angkutan umum di Bandung, saya bingung naik apa untuk kembali ke kostan. Dan kondisi saat itu tidak memungkinkan untuk bertanya pada orang-orang di sekeliling. Akhirnya saya berjalan kaki ke Cihampelas sampai akhirnya menemukan trakyek Kalapa-Ledeng. Haha. Tapi walau begitu, setidaknya saya tidak kehilangan momen acara yang saya ingin datangi di peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s