Goes To NuArt

Pintu masuk galeri utama NuArt.

Pintu masuk galeri utama NuArt.

Sabtu, 28 Maret 2015. Yap, hari ini dimulai dengan kuliah Pemrograman Internet bersama Pak Herbert untuk mengganti kuliah yang kosong beberapa minggu lalu. Setelah itu lanjut dengan Musyawarah Mahasiswa KEMAKOM yang mulai menginjak ke LPJ BEM. Namun bukan itu yang ditunggu-tunggu dari hari ini. Hari ini dinanti karena hari ini adalah jadwal Studio 229 melakukan apresiasi seni ke NuArt dalam kegiatan kaderisasi untuk anggota angkatan XVI.

Dengan menggunakan angkot bersama dengan anggota baru, saya menuju ke sebuah galeri yang sangat didatangi oleh Feby, adik tingkat di jurusan dan juga di UKM. Walau angkot yang saya tumpangi sempat mogok dan berganti angkot, namun rombongan saya tiba di NuArt tidak terlalu sore.

Kelompok 7 saat menggambar karya yang mereka pilih untuk dipresentasikan.

Kelompok 7 saat menggambar karya yang mereka pilih untuk dipresentasikan.

Benar saja, lokasi NuArt sangat memukau. Banyak karya-karya patung yang berada di halaman galeri. Sebelumnya, kami sudah diberitahu untuk tidak menginjak rumput, membawa makanan, dll. karena ternyata sang pemilik galeri ini, Nyoman Nuarta sangat memperhatikan kebersihan. Dan yang membuat saya kagum adalah, ternyata beliau adalah seniman yang membuat Graha Wisnu Kencana yang berada di Bali. Yap, konsep dan pengerjaannya pun ternyata berpusat di sini. Mahakarya yang bisa kita temui di pulau Dewata itu ternyata berasa dari Bandung dan cukup dekat dengan kampus saya.

Angkatan XVI Studio 229 UPI.

Angkatan XVI Studio 229 UPI.

Tentu yang paling berkesan adalah saat masuk ke ruangan galeri utama. Di sana kami tidak boleh memotret dan menyentuh karya. Terdapat pemandu yang menjelaskan kami makna dan sejarah karya-karya yang ada di sana. Nama pemandu kami adalah Raisa. Dari wajahnya, terlihat jelas wajah bernuansa Bali. Di sana terdapat sebuah lukisan yang sangat lebar yang dibuat dengan teknik dot selama 6 bulan. Namun salah satu karya Pak Nyoman yang paling membuat saya terkesan adalah sebuah karya patung berupa jubah dan helm militer tanpa sosok seorang militer di dalamnya. Raisa mengatakan bahwa makna dari karye tersebut adalah bahwa seorang militer tidak memiliki hati dan hanya mengikuti perintah dari atasannya.

Setelah itu seperti biasa, anggota baru diberi tugas untuk berkarya dan mempresentasikan hasil karyanya di teater terbuka yang terdapat di NuArt. Mungkin ini adalah poin lebih dari kaderisasi angkatan sebelumnya (angkatan saya). Pematerian pertama sangat menyenangkan karena juga bisa dianggap sebagai β€˜jalan-jalan’ oleh para anggota, sehingga mereka semakin akrab satu sama lain. Semoga saja jumlah mereka tak akan surut dimakan waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s