Yuk, Belajar Move On ke Open Source!

Aditia A. Pratama sedang mendemonstrasikan karyanya. Sumber: Facebook Ridjam.

Pagi itu saya dan teman saya, sebut saja Faisal sudah memiliki rencana akan ke mana kami hari ini. Yap, kami akan ikut dalam acara Free IT Saturday Lesson (FSL) yang diselenggarakan oleh Comlabs USDI ITB. Kegiatan yang dilaksanakan pada 27 September 2014 itu bertajuk “Kebebasan Berkarya dengan Software Grafis berbasis Free dan Open Source”. Walau ada perubahan tempat yang tadinya di Comlabs menjadi berlokasi di Auditoium Ipteks (CC Timur ITB) dan acara baru dimulai 1 jam dari waktu yang telah dipublish, tak membuat rasa semangat saya untuk mengetahui isi dari acara ini turun. Dan ternyata bukan hanya saya, Faisal, dan Fadhil yang mengikuti acara ini dari UPI, tetapi ada beberapa rekan dari kelas A dan kakak tingkat juga yang hadir.

Yang membuat menarik adalah salah satu pembicara, Rizky Djati Munggaran (Ridjam) yang juga bekerja di Comlabs ITB adalah alumni UPI. Dan yang menarik lagi adalah bahwa dia bukan lulusan dari Ilmu Komputer, tapi dari Teknologi Pendidikan. Selanjutnya ada Aditia A. Pratama yang berkecimpung dalam dunia FOSS (Free and Open Source Software) dan mendirikan sebuah studio kreatif bernama Kampoong Monster. Terakhir adalah Susan Devy, seorang pengusaha muda dari IPB yang tertarik dengan software desain yang berbasis open source.

“Masih terhormat desain yang biasa saja tapi menggunakan software open source, dari pada desain yang luar biasa tapi menggunakan software hasil pembajakkan.” — Ridjam

Singkatnya, Ridjam menjelaskan perjalanan bagaimana ia bisa terjun dalam FOSS. Dari mula hobi, dia bisa menjadi seorang digital artist dengan menggunakan FOSS. Di sana Ridjam juga menjelaskan berapa cost yang kita keluarkan untuk menjadi seorang digital artist dengan komputer dan software berlisensi. Intinya Ridjam ingin para peserta mengerti bahwa dengan menggunakan software ilegal, kita sama saja telah melakukan sebuah pencurian. Oleh karena itu, ia memberi solusi untuk mengganti software yang kita gunakan dalam bidang desain grafis dengan Inkscape, GIMP, Blender, dan Krita. Di kesempatan itu juga Ridjam menunjukkan beberapa hasil karyanya yang dibuatnya menggunakan Inkscape. Ridjam juga sempat mendemokan beberapa teknik yang dianggapnya menarik di Inkscape yang tidak bisa ia temui di CorelDRAW atau Adobe Illustrator.

Lalu ada Susan seorang pengusaha yang tertarik dengan FOSS. Yang menarik bukan dari masalah desainnya. Tapi bagaimana dia membuka usaha sekelas UKM (kalau tidak salah namanya AhadMart), dan semua software yang digunakan untuk usahanya tersebut menggunakan FOSS! Wow. Alasannya karena mereka tak mungkin harus membeli software berlisensi untuk usaha kecilnya. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk menggunakan FOSS. Halal dan Insya Allah menjadi berkah bagi usaha yang ditekuninya.

Mari hargai Software Developers dengan cara membeli software mereka secara legal, atau tidak menggunakan software hasil pembajakan yang merugikan mereka.

Terakhir ada Aditia yang juga sebagai founder FOSSGrafis.com. Yang paling menarik saat Adit menunjukkan beberapa hasil filmnya yang dibuat oleh Studio Kampoong Monster menggunakan software Blender. Salah satunya adalah trailer “Pitung Next Gen” yang merupakan animasi fiktif yang berlatar Museum Fatahillah di Jakarta. Juga yang tak kalah menarik adalah animasi yang dibuat untuk Kemkominfo tentang penipuan di internet dan juga proyek film layar lebar bersama dengan komunitas Blender di seluruh dunia. And it’s very cool.

Fadhil bertanya pada ketiga pemateri. Sumber: Facebook Ridjam.

Peserta FSL FOSS Grafis. Sumber: Facebook Ridjam.

Setelah itu terdapat sesi tanya jawab dan pembagian doorprize untuk para peserta, yang kemudian ditutup dengan foto bersama pembicara dan kru dari Comlabs ITB. Acara yang kira-kira berlangsung 3 jam ini memberikan pengetahuan dan pandangan baru bagi saya dalam menggunakan software. Memang tidak mudah move on ke FOSS secara langsung. Ridjam pun mengakui saat harus move on dari CorelDRAW ke Inkscape. Tapi setelah acara itu saya berinisiatif untuk belajar sedikit demi sedikit menggunakan FOSS dan meninggalkan software berlisensi yang tidak jelas apakah kita memiliki lisensi untuk menggunakannya atau tidak. Karena tidak perlu dipungkiri bahwa di Indonesia sangat marak bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar software yang ada di perangkat komputer adalah ilegal.

It’s time to Move On!

So, yuk belajar move on ke Open Source! Kita belajar menggunakan sesuatu yang sudah jelas kehalalannya. Dan dengan begitu, kita juga membantu memberantas pembajakan software di dunia khususnya di Indonesia. Jadi jika kita akan membuka usaha baru kecil-kecilan yang menggunakan perangkat komputer, Insya Allah hasil yang didapat akan berkah karena alat-alat yang digunakan bukanlah hasil pembajakkan. Sudah terlanjur sering? Tidak ada kata terlambat, kok. Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan. Let’s Move On!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s