Ketika Jadi Kakak Mentor

Sumber: elevationnetworks.org

Tadi sore adalah jadwal bagi saya bertemu dengan adik mentor untuk melaksanakan mentoring yang menjadi rangkaian kegiatan dari Bimbingan Mahasiswa Ilmu Komputer (BMAIL). Jadwal ini pun susah payah kami cari berhubung harus menentukan irisan waktu yang kosong dari 4 kelas yang berbeda. Akhirnya Rabu sore menjadi satu-satunya irisan. Itupun hanya berlaku saat ini karena mulai minggu depan ada dua adik mentor yang memiliki kesibukan di UKM yang mereka ikuti di jam yang sama.

Apa yang menarik dari mentoring ini? Apa tujuan saya menjadi kakak mentor? Membantu program kerja DPO? Atau ingin eksis pada adik tingkat? Sama sekali bukan. I just want to inspire myself by inspire the others. Yap, menurut saya menginspirasi atau memotivasi orang lain berarti sedang melakukannya pada diri kita sendiri dengan cara tersebut. Karena setiap orang tak akan bisa memotivasi dirinya sendiri secara langsung. Kalau ada, orang tersebut tak akan merasakan sebuah kesedihan, kesulitan, dan membutuhkan orang lain, kan? Lantas apa saya hebat sehingga dapat menginspirasi orang lain? Oh tidak. Menginpirasi orang bisa dengan berbagai cara, tidak hanya kita harus menjadi seorang yang patut diinspirasi, tapi kita bisa membagi cerita, pengalaman, dan inspirasi yang kita miliki pada orang lain.

“I just want to inspire myself by inspire the others.”

Pada BMAIL 2014 ini saya mendapatkan 7 adik mentor. Mereka adalah Aldi, Irsad, Fasial, Farhan, Wawan, Sultan, dan Ronaldo. Ketujuh orang ini sebelumnya tidak dekat dengan saya. Padahal saya sering saling kontak dengan mahasiswa baru karena peran di advokasi mahasiswa. Dan mereka seperti menjadi orang yang baru bagi saya. Tapi justru di sana tantangannya. Haha.

Ingat mentoring tentu ingat ketika saya yang menjadi adik mentor. Yap, waktu itu saya, Seno, Anshar, Anjar, dan Agung berada dalam satu kelompok mentor di BMAIL 2013, yaitu di kelompok 1 yang dimentori oleh Kang Miftah. Jujur saja, pada saat dulu kami bisa dibilang solid dan tak tahu waktu kalau sudah mentoring. Anehnya, saat yang lain terlihat selalu menghindar dari mentoring, kami justru selalu haus akan mentoring. Bahkan selalu melebihi waktu yang disepakati. Why? Karena di sana kami mendapat apa yang jarang kami dapatkan di manapun. Kang Miftah menjadi sosok motivator yang selalu mendongkrak semangat kami. Dengan begitu kami merasa mentoring bukan sebuah kewajiban kaderisasi, tapi memang sesuatu yang menarik. Itu kuncinya.

Saya pun mencoba menerapkan hal yang sama pada mentoring kali ini. Dan menariknya lagi adalah saya menjadi kakak mentor kelompok 1, kelompok di mana dulu saya berada. Ibarat pemain bola, saya bisa diibaratkan sebagai Inzaghi yang bermain bersama pemain Milan yang memiliki pelatih Ancellotti. Sekarang Inzaghi menjadi pelatih Milan dengan pemain-pemain baru. Dan Ancellotti? Dia masih menjadi seorang pelatih di tim berbeda. Yap, mentoring kali ini pun Kang Miftah masih menjadi mentor dan satu-satunya angkatan 2011 yang menjadi mentor. Bedanya sekarang Kang Miftah mementori kelompok 11. Dan saya, Anshar, dan Anjar yang dulu menjadi adik mentornya, kini sama-sama menjadi seorang kakak mentor. Hmmm, jika dipikir-pikir cukup menarik. Sama seperti halnya ketika kita tahu bahwa guru kita pernah menjadi murid dari guru kita yang lain.

“Ilmu akan bertambah saat dibagi.”

Dan jujur saja, ‘kesuksesan’ kelompok 1 tahun lalu juga menjadi target kelompok 1 yang saya mentori sekarang. Target apa? Kembali menjadi kelompok dengan karya terbaik? Dan menjadi mentor terbaik seperti tahun lalu saat kelompok 1 bisa dikatakan double winner? Ah tidak terpikir sampai sana. Yang ada di pikiran saya adalah bagaimana setiap orang yang ada di kelompok ini memiliki rasa memiliki terhadap kelompok ini. Walau berbeda kelas dan memang dari latar yang berbeda-beda, tapi saya ingin membawa kelompok ini menjadi sebuah keluarga kecil yang terus saling merangkul dan saling menginspirasi satu sama lain. Dan tentu targetnya mereka harus lebih baik dari pada sebelum saat mereka melaksanakan kegiatan mentoring.

Sudah saatnya menginspirasi menjadi goal utama dari mentoring. Karena dengan itu, adik mentor tak akan merasa terbebani karena bukan materi yang mereka hadapi. Dan kita pun akan sendirinya terinspirasi seperti ilmu yang akan bertambah saat dibagi. Berbagi inspirasi itu menyenangkan. Open their eyes, and let it open your eyes.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s