Ketika Mereka Harus Bekerja

Sumber gambar: andrikusuma86.wordpress.com

Satu hal yang menarik dari setiap Ramadhan yang sudah berlalu belum berapa lama ini adalah maraknya iklan-iklan di televisi yang bernuansa islami. Yap, banyak iklan yang mengusung tema keluarga bergenre haru. Dan konsepnya pun kebanyakan sama, yaitu iklan bersambung. Umumnya iklan di awal Ramdhan menceritakan sebuah tragedi yang menimbulkan konflik, dan di akhir menuju lebaran muncullah iklan sambungan yang menjadi resolusi dari iklan sebelumnya. Jika tahun lalu iklan favorit di Ramadhan itu berasal dari iklan rokok, sekarang ada satu iklan yang sederhana tapi mengena. Yaitu iklan salah satu produk mie instan ternama.

Pada iklan ini dikisahkan seorang ayah yang berjanji akan shalat taraweh bersama anaknya. Tapi secara tak disangka, ayah yang berprofesi sebagai supir taksi ini harus mengantarkan seorang nenek untuk mencari rumah nenek tersebut. Alhasil janji sang ayah pada sang anak pun tak dapat dipenuhi. Sang anak terlihat kesal kecewa.

“Waktu adalah uang. Tapi waktu tak dapat dibeli dengan uang.”

Apa yang menarik? Sang ayah! Kita semua tau hari raya atau yang sering disebut lebaran adalah waktu yang paling tepat untuk berkumpul bersama dengan keluarga. Tapi roda ekonomi tak bisa berhenti ketika lebaran datang. Harus ada orang-orang yang rela mengorbankan waktunya untuk orang lain. Dan mungkin itu adalah hal sepele tapi mendalam yang ingin disampaikan iklan tersebut. Mereka harus bekerja di saat yang mungkin mereka tidak mau. Profesionalisme, dan untuk keluarga tentunya mereka lakukan semua itu.

Apa kita pernah memikirkan bagaimana para supir bus, nahkoda kapal, atau masinis kereta yang membawa orang lain untuk berkumpul dengan sanak saudara tapi mereka sendiri tak bisa lakukan itu? Atau para karyawan televisi yang tak mungkin televisi harus stop siaran karena semua karyawannya pulang kampung? Saya pun tak pernah berpikir untuk mau memiliki pekerjaan semacam itu. Pekerjaan di mana saya harus meninggalkan keluarga saya saat datang momen yang tepat untuk berkumpul. Tapi, jika semua orang berpikir seperti itu bagaimana mungkin kita semua dapat beraktivitas? Atau sekedar memenuhi keinginan kita?

“Terkadang sebuah pengorbanan tak mendapatkan hasil yang setimpal.”

Cerita lain saat saya pergi ke makam beberapa jam setelah shalat ied. Di sana sudah ada penjual es krim yang sudah setiap tahun berjualan es krim di sana yang sudah dipastikan laku karena banyak anak kecil. Yap, ini momen usaha yang bagus. Menjual es krim dan dia adalah satu-satunya penjual. Laku? Jelas. Laku keras. Tapi siapa yang berpikir dia harus kehilangan momennya untuk mendapatkan uang? Ketika jualannya laku keras dan mendapat untung yang banyak, dia harus mengorbankan sesuatu yang besar, waktu.

Mungkin dari sini kita belajar bahwa waktu sangat mahal. Waktu sangat berharga. Di saat kita sering bermalas dan membuang waktu, di luar banyak seorang penafkah yang kehilangan banyak waktu untuk keluarganya. Time is money? No! Time is more valuable than money.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s