Pengukuhan Studio 229 (Part 2, End)

A Esa sedang berfoto di muka pintu Goa Jepang.

A Esa sedang berfoto di muka pintu Goa Jepang.

Setelah shalat dzuhur dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya, Goa Jepang. Tentu di dalam perjalanan ke sana kami juga sambil melengkapi karya kami di kanvas yang telah disediakan di awal. Di jalan sempat ada ibu-ibu yang ngebut sambil mengklakson dengan wajah kecut dengan menaiki motor maticnya. Dan itu menjadi bahan tawaan kawan-kawan dari Studio 229. Di jalan kami melihat beberapa turis yang mengujungi tempat wisata ini. Terlihat juga orang Jepang yang akan melihat goa yang dibuat oleh negaranya di masa penjajahan di negeri ini. Hingga kami sampai di pos ketiga, yaitu pos selfie. Hah selfie? Iya, haha.

Jadi di sana kita akan masuk ke goa Jepang perkelompok. Dan lagi-lagi kelompok saya menjadi kelompok yang mendapatkan urutan terkahir (lagi). Permainannya adalah, kita masuk ke dalam goa yang sangat gelap. Dengan berbekal senter kita disuruh masuk dan mencari petunjuk. Petunjuk tersebut harus difoto dan kita harus mengikuti petunjuk ke mana kita harus berjalan. Di sana nanti kita akan menemukan 2 kali spot untuk selfie, hehe. Setelah mendapat giliran, akhirnya A Esa, saya, April, Ajay, Rita dan Febi berangkat masuk ke goa tersebut. Dan dari sana kita menemukan beberapa petunjuk dan mengikutinya. Sangat menyenangkan, seperti berpetualang. Jauh dari sangkaan awal saya yang kami akan dijahili oleh senior seperti pengukuhan-pengukuhan yang pada umumnya. Dan kami pun keluar dari pintu goa paling ujung (ada 4 pintu goa).

Salah satu contoh petunjuk di dalam goa Jepang.

Salah satu contoh petunjuk di dalam goa Jepang.

Foto selfie pertama (pertiga orang). Dari kiri saya, Rita, dan A Esa.

Foto selfie pertama (pertiga orang). Dari kiri saya, Rita, dan A Esa.

oto selfie pertama (pertiga orang). Dari kiri April, Ajay, dan Febi.

oto selfie pertama (pertiga orang). Dari kiri April, Ajay, dan Febi.

Foto selfie sesi kedua (sekelompok). Ajay dan A Esa ga kefoto -_-

Foto selfie sesi kedua (sekelompok). Ajay dan A Esa ga kefoto -_-

Sembari menuju pos terkahir, karya di kanvas kita pun telah selesai. Akhirnya kita menuju teater terbuka dekat dengan patung Ir. H. Juanda. Menuju sana kami harus menaiki anak tangga yang cukup banyak. Tenaga cukup terkuras dalam perjalanan itu. Hingga sampai di pos ketiga sudah ada beberapa senior yang di antaranya adalah ketua Studio 229, A Rifki. Di sana kami mensketsa salah satu momen sepanjang perjalanan kami pada hari ini. Saya memilih untuk mensketsa tentang permainan komuni gambar walau salah menulis (malah menulis komuni kata), dan menjadi bahan tawaan saat presentasi di depan. Jadi ceritanya kami disuruh mempresentasikan hasil karya kanvas kita dan hasil sketsa masing-masing. Kali ini kelompok kami yang mendapatkan urutan pertama setelah di permainan sebelum-sebelumnya. Di sana A Esa secara spontan memberi nama karya kami dengan nama ‘Bunga Mérékebémbéng’. Dan itu menjadi lucu dan menjadi presentasi yang menarik. Hingga selesai 4 kelompok mempresentasikan karyanya, kami pun diberi waktu bebas untuk beristirahat. Salah satunya adalah makan camilan yang dibawa oleh April, haha.

Karya di kanvas kelompok satu. Bunga Merekebembeng.

Karya di kanvas kelompok satu. Bunga Mérékebémbéng.

Salah satu kelompok sedang mempresentasikan hasil karyanya.

Salah satu kelompok sedang mempresentasikan hasil karyanya.

Setelah itu adalah pengukuhan. Wow. Sangat berkesan. Surat dari Rektor UPI tentang pengangkatan anggota baru angkatan 15 Studio 229 pun dibacakan oleh ketua Studio 229. Setelah itu kami membaca surat perjanjian yang dipimpin oleh A Esa selaku ketua angkatan 15. Setelah itu tiba-tiba dari belakang pipi kami dicoret dengan cat merah-hitam oleh senior. Seolah menjadi tanda bahwa kita sudah resmi menjadi anggota baru. Akhirnya acara diakhiri dengan evaluasi dan foto bersama. Sungguh hari yang menyenangkan. Berpetualang, malah serasa piknik. Tak ada suasana pengukuhan yang seram. Ini justru membuat kita semakin betah dengan sesama anggota di Studio 229. Semoga kaderisasi semacam ini bisa menjadi contoh bagi organisasi lainnya, kaderiasasi yang merangkul, bukan yang membuat kita benci karena merasa senior sangat berkuasa. Good job for Studio 229!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s