Pengukuhan Studio 229 (Part 1)

Lokasi Pengukuhsn Studio 229.

Hari ini adalah pengukuhan anggota muda UKM Studio 229. Rencana berkumpul pukul 08.00 WIB, saya sudah berangkat dan sampai di depan sekre Studio 229 sekitar pukul 07.30 WIB. Yang telah hadir di tempat baru tiga orang, yaitu Kholi, Fuji, dan Eka. Berbekal roti dan susu yang dibeli setelah membeli nasi bungkus yang dibawa untuk makan siang nanti, saya pun sarapan di depan minimart UPI yang bersebelahan dengan sekre Studio 229. Hingga yang lain terkumpul, setelah absensi dan berkemas lagi kami pun berangkan dengan mobil angkutan kota yang kami carter sekitar pukul 09.00 WIB. Memang ‘jam ngaret’ sudah menjadi biasa. Dan lucunya, sampai naik angokot pun kami anggota baru tak mengetahui kami akan dibawa kemana.

Setelah dalam perjalanan dan saling mengobrol, ternyata kami akan dibawa ke Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda di Dago. Dulu saya sempat ingin berkunjung ke tempat ini. Tapi karena takut salah jalan dan sulit untuk kembali, saya mengurungkan niat. Dan hari ini saya akan ‘piknik’ bersama rekan-rekan dari Studio 229. Sampai di depan pintu gerbang kedua, di sana terpampang “Selamat Datang di Goa Belanda”. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu adalah kami akan disuruh masuk ke dalam goa satu persatu. Namanya juga pengukuhan, pasti ada kejahilan dari senior ke junior. Tapi tak apalah. Saya bawa senang, karena hitung-hitung sekalian berwisata. Sebelum masuk lokasi, kita diberi pita merah sebagai tanda peserta acara hari itu. Di sana juga kita dibagi 4 kelompok. Saya masuk dalam kelompok 1 bersama A Esa, Ajay, April, Rita, dan Febi. Dan kami pun berdoa agar acara hari ini lancar.

Tempat pertama yang akan kami kunjungin tentu saja Goa Belanda. Di jalan menuju ke sana, kami pun mencari bahan-bahan untuk mengisi kanvas yang sebelumnya sudah dibagikan. Jadi, ceritanya kanvas ini harus kami isi dengan apa saja yang ada di sepanjang perjalanan untuk menghasilkan suatu karya yang nanti akan dipresentasikan. Sampai di depan Goa Belanda, banyak para penyewa senter, untungnya kami telah mempersiapkan senter. Kami pun masuk ke Goa Belanda bersamaan. Ternyata hanya untuk menyebrang saja. Jadi ada wilayah lain yang ‘terhalangi’ oleh tebing. Nah, di dalam tebing itulah terdapat goa, dan kita dapat berjalan ke sisi satunya dengan masuk ke goa tersebut. Tapi jujur saja, goa tersebut tidak terlalu menakutkan karena masih terlihat cahaya dari kedua sisi pintu goa.

Ternyata di sana terdapat pos 1. Yaitu pos komuni gambar. Jadi di sini kita bermain komuni gambar, sebuah permainan seperti komuni kata tapi dengan gambar. Jadi, orang pertama akan diberi sebuah kata, lalu akan menggambar kata tersebut pada sebuah kertas yang disediakan selama 7 detik, dan memperlihatkan ke kawan selanjutnya selama 3 detik, lalu kawan yang tadi juga menggambar dan memperlihatkan pada kawan selanjutnya dengan durasi waktu yang sama. Begitu berlanjut sampai dengan kawan terkahir dalam satu kelompok. Dan nanti kawan terkahir akan ditanya gambar apakah yang dimaksud. Menarik. Dan kelompok saya mendapat kesempatan terakhir untuk bermain setelah pengocokan.

Siap-siap main komuni gambar.

Siap-siap main komuni gambar.

Permainan ini berjalan sangat menyenangkan. Belum lagi kita hanya diberi waktu 3 detik untuk melihat gambar dari kawan sebelumnya. Akhirnya banyak terjadi miss-communication. Yang awalnya gambar batu, berujung menjadi gambar gunung. Haha. Di game pertama kelompok saya memang gagal, tapi di game kedua kami berhasil dengan kata ‘ulat’ dan berhasil menebak game ketiga yang mana soalnya diberikan dari kelompok lain, yaitu kelelawar. Setelah itu, permainan pun dilanjutkan, tapi tidak berkelompok, melainkan satu angkatan yang akan dikukuhkan. Sekitar 22 orang bermain, dan kita berhasil menebak gambar Monas. Tapi yang kedua kami gagal menebak jawaban yang seharusnya ‘orang naik sepeda’, tapi diujung kami hanya menjawab sepeda saja. Haha. Akhirnya permainan ini diakhiri, dan kami diberi sebuah artefak untuk ditempel di kanvas karya kami.

Setelah itu kami kembali menyebrang goa Belanda. Tapi sebelum ke pintu du sebrang, beberapa dari kami penasaran dan iseng untuk masuk ke ruangan lainnya dengan bermodalkan senter. Akhirnya kami berkumpul di depan mushola menunggu adzan dhuzur. Selagi menunggu, kami berkumpul dan makan siang bersama, memakan bekal yang sudah dibawa masing-masing. Di sana kami bercerita banyak, tentang cerita kehidupan di Batam oleh April yang asli orang sana, bercerita tentang kakak tingkat yang pergi ke Jepang, dsb. Setelah masuk waktu dzuhur, kami pun bergantian untuk menunaikan shalat dzuhur secara bergantian, karena mushola yang tersedia tak cukup jika menampung seluruh peserta. Setelah itu, perjalanan pun dilanjutkan menuju goa selanjutnya, Goa Jepang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s