Euforia Lulus UN

Hari ini adalah hari kebangkitan nasional. Tapi ada yang spesial yang juga terjadi pada hari ini. Ya, hari ini adalah pengumuman kelulusan bagi siswa SMA yang telah mengikuti ujian nasional yang sudah diselenggarakan pada tanggal 14 April lalu. Hari yang pasti ditunggu-tunggu oleh para siswa selain pengumuman SNMPTN tentunya. Padahal, kita semua tahu bahwa lulus UN itu sudah biasa. Kelulusan 100% sudah setiap tahun menjadi berita di banyak sekolah. Tapi ada yang menyikapi momen ini dengan cerdas, ada yang hanya larut dalam euforia kelulusan saja.

Sudah tak asing dan mungkin sudah menjadi tradisi yang dianggap “keren” kalau setelah pengumuman kelulusan, agenda yang wajib dilaksanakan adalah corat-coret seragam. Umumnya dengan menggunakan brush, atau juga spidol. Tentu ini bukan hal yang dapat dianggap sebagai hal yang biasa saja. Ini menunjukkan sikap mental remaja kita. Bayangkan saja, kelulusan UN itu rata-rata di atas 99%. Bukankah itu berarti suatu hal yang biasa saja, bukan? Contoh lainnya adalah ketika jika Anda sedang ujian di kelas dan Anda mendapatkan nilai 100. Tapi di sisi lain, yang mendaptkan nilai 100 itu 99% dari peserta yang mengikuti ujian tersebut. Saya yakin nilai 100 itu tidak akan terasa spesial. Begitu juga dengan “hanya” lulus UN tersebut.

“Sudah menjadi trend, sudah menjadi tradisi yang kuat.”

Sebenarnya ada yang jauh lebih penting dari pada itu. Contohnya adalah berapa nilai UN tersebut. Karena lucu jika kita berefouria lulus UN padahal nilai UN kita di bawah rata-rata bahkan kita pun malu menyebutkannya. Jauh lagi tentang SNMPTN, dari sekian siswa di Indonesia, hanya beberapa persen yang akan diterima di PTN yang telah dipilihnya. Tentu itu adalah hal yang lebih besar dari pada hanya “lulus” tanpa melihat aspek yang lainnya. Padahal bisa saja dia dapat lulus pun karena bantuan dari kecurangan-kecurangan ujian nasional yang sudah menjadi rahasia publik.

Entah apa yang dipikirkan oleh mereka yang merayakan kelulusan UN dengan berpesta corat-coret seragam sekolah yang mungkin masih bisa bermanfaat jika diberikan kepada orang lain. Untuk kenang-kenangan? Lalu untuk apa para siswa kelas XII sibuk mencari pembuat buku tahunan terbaik untuk mendokumentasikan masa-masa SMA jika masih berpikir bahwa seragam yang dicoreti untuk sebuah kenang-kenangan. Mungkin ini sudah menjadi trend, sudah menjadi tradisi yang sangat kuat. Atau mungkin juga karena melihat di media bahwa corat-coret seragam setelah lulus itu keren, atau semacamnya. Dan sekali lagi inilah mental kebanyakan remaja kita saat ini. Terlalu riang dengan sesuatu yang semu, dan melupakan sesuatu yang lebih penting.

Iklan

2 thoughts on “Euforia Lulus UN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s