Antara Pendidikan, Ujian Nasional dan Kejujuran di Negeri Ini

Sumber gambar: ppitaiwan.org

Ada yang menari kuliah Landasan Pendidikan kali ini. Jika sebelum-sebelumnya perkuliahan dipimpin oleh Pak Gio yang menjadi asisten dari Pak Tatang, dosen aslinya, kali ini Pak Tatang hadir memberikan kuliah. Tentu karena ini adalah pertemuan terkahir sebelum minggu dengan kami melaksanakan UAS untuk matakuliah ini. Ya, walau saya berkuliah di jurusan yang non-kependidikan, tapi karena ini adalah Universitas Pendidikan, tak ada salahnya jika semua mahasiswanya harus belajar sedikit tentang pendidikan walau dasarnya saja. Karena kita semua pasti menjadi seorang pendidikan, bukan? Da saya bisa katakan bahwa kuliah hari ini sekelas seminar.

Yap, Pak Gio seperti biasa memberikan ceramah tentang pendidikan sangat bagus. Tapi untuk Pak Tatang yang jauh lebih senior, feel yang dirasakan saat berbicara tentang pendidikan di depan kelas sanagt berbeda. Saya seperti sedang menonton sebuah talk show di televisi yang mengundang sumber ahli pendidikan dan mengupasnya secara berkualitas. Diskusi ini berawal dari pertanyaan saya, Tandry dan Ari yang mempunyai satu garis besar yang sama, yaitu pemerataan dan sistem pendidikan di Indonesia. Setelah kelompok penyaji menjawab pertanyaan kami, lalu seperti yang biasa Pak Gio lakukan, Pak Tatang memberi kesimpulan dan merangkum semua jawaban dari pertanyaan yang terlontar. Dan ini menjadi sesuatu yang menarik.

Masalah yang pertama tentu saja isu nasional yang sering dibicarakan: Ujian Nasional. Saya mempertanyakan bagaiama mungkin standar kompetensi kelulusan siswa disamaratakan jika di setiap sudut di negeri ini, banyak sekolah yang belum memenuhi standar pendidik dan tenaga kependidikan, atau standar sarana prasarana. Beliau menjawab, sebenarnya konsep pendidikan Indonesia sudah bagus. Ujian Nasional yang dilaksanakan sebagai standar kelulusan sudah harus berbanding lurus dengan standar lainnya. Dengan kata lain, sebelum UN dilaksanakan, setiap sekolah di negeri ini harus mememenuhi standar yang telah ditetapkan dari segi tenaga pengajar atau sarana prasarana (karena ini yang menjadi alasan utama masyarakat tidak setuju dengan UN). Tapi masalahnya adalah dalam hal pelaksanaan. Konsep sudah bagus, tapi aksi untuk menyamakan standar pendidik dan sarana prasarana masih dapat dikatakan belum ada. Alhasil UN pun “dipaksa” untuk tetap dilaksanakan. Yap, poin pertama adalah bukan UN yang salah, tapi pelaksanaan sistem standardisasi pendidikan dan sarana yang tidak mencapai goal. Dan salahnya adalah, banyak juga siswa yang memasang topeng berlaga menolak UN, padahal sekolahnya sudah memenuhi standar. Mungkin karena takut tidak lulus? Kenapa? Padahal soal UN pun dirancang sesuai standar, tidak lebih. Tapi jika banyak siswa banyak yang menolak UN hanya gara-gara takut tidak lulus karena kesulitan mengerjakan soal yang disebabkan malas/tidak mau belajar, saya rasa itu alasan tidak masuk akal dan sudah keluar dari “masalah yang sebenarnya” (dan inilah yang menjadi bibit kebocoran di UN). Karena masalah UN adalah masalah keadilan bagi mereka yang jauh dari standar sekolah, bukan hanya karena masalah sentilan “Sekolah 3 tahun hanya ditentukan oleh 3 hari”.

“Jika Pendidikan di negeri ini bertujuan mencerdaskan bangsa, membuat orang bodoh menjadi pintar, bagaimana bisa jika sekolah bagus hanya untuk orang-orang pintar.”

Selanjutnya adalah ketika Tandry mempertanyakan tentang sekolah bagus yang hanya ada di kota-kota besar. Dengan tenang Pak Tatang pun menjawab jika kita mendengar sekolah bagus, dari mana kita melihatnya? Gedung? Guru-guru yang bertitel tinggi? Pak Tatang pun mengaitkan dengan isu yang sedang hangat saat ini, yaitu masalah pelecehan yang dialami oleh siswa Jakarta Internasional School (JIS). Jika bagus tidaknya sekolah hanya ditentukan oleh sarana prasarana, gedung, dan guru-guru yang sangat kompeten, lalu ada apa dengan JIS? Apa yang tidak dimiliki JIS dalam hal-hal tersebut? Juga banyak sekolah atau perguruan tinggi bagus ternama yang menghasilkan banyak koruptor. Jika memang kita sering melihat suatu sekolah yang bagus dan memang bagus, pertanyaannya adalah mereka berhasil karena sarana dan prasarana? Tidak. Karena sekolah tersebut memang menerima inputan siswa-siswa yang sudah pintar terlebih dahulu. Ini juga menjadi masalah dalam pendidikan kita. Karena jika tujuan pendidikan di negeri ini adalah untuk mencerdaskan bangsa, untuk membuat orang bodoh menjadi pintar, Indonesia takkan maju. Karena sekolah bagus hanya untuk orang pintar. Sekolah ternama hanya untuk orang pandai. Alhasil tujuan tersebut sulit untuk tercapai. Yang pintar semakin pintar dengan sekolah bagusnya, dan yang bodoh sulit untuk mengejar mereka yang pintar karena tidak bisa bersekolah bersama yang pintar. Akibatnya tidak sedikit orang pintar yang membodohi orang lain.

“Indonesia tak kekurangan orang pintar. Indonesia kekurangan orang jujur.” — Drs. Tatang Syaripudin, M.Pd.

Pada intinya, Indonesia itu tak kekurangan orang pandai. Kita lihat saja banyak anak bangsa yang menjuarai olimpiade sains di tingkat dunia, bahkan bukan hanya di dalam negeri saja, banyak orang Indonesia di luar sana yang pintar dan berguna bagi negara lain tersebut. Indonesia hanya kekurangan orang jujur. Kita sering mendengar orang Indonesia yang berkarya di luar negeri dan kita bangga. Ya, hanya bangga. Padahal mereka menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk negara lain. Sekali lagi, Indonesia tak kekurangan orang pintar. Kepribadian bangsa inilah yang harus dibenahi. Kejujuran terasa sangat mahal di negeri ini. Koruptor adalah orang-orang pandai. Itu mengapa mereka bisa memanipulasi fakta dan terjadi korupsi. Indonesia kekurangan orang jujur. Berapa orang di negeri ini yang siap menerima nilai jelek karena hasil sendiri dibandingkan melakukan kecurangan untuk mendapatkan sebuah nilai yang bagus? Karena semua ini masalah mental kejujuran. Jika semua berjalan dengan kejujuran, korupsi tidak ada, saya yakin sekolah-sekolah di negeri ini semuanyanya akan mampu memenuhi standar yang ditetapkan. Dan jika mental kejujuran bangsa ini sudah tinggi, para siswa akan berjuang lebih keras dalam belajar, karena faktor malasnya siswa dalam belajar, salah satunya karena ada pikiran bahwa mereka dapat mencontek atau melakukan kecurangan yang serupa. Dan Ujian Nasional pun akan berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana fungsinya. Dan yang pasti, Ujian Nasional tidak akan menjadi masalah, karena itu adalah hal yang biasa. Kuncinya hanya dari sebuah kejujuran. Kata yang mudah diucap, sulit dilakukan.

“Kejujuran adalah hal kecil yang berdampak besar.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s