Tutorial MKDU PAI UPI 2013: Shine On Sunday

Suasana Tutorial PAI. Difoto dari belakang, haha.

Suasana Tutorial PAI. Difoto dari belakang, haha.

Tutorial MKDU PAI adalah salah satu program dari universitas untuk mahasiswa baru. Dalam program ini, pada akhir pekan mahasiswa baru wajib mengikuti kuliah duha dan tutoring yang dilaksanakan di masjid kebanggaan UPI, Masjid Al-Furqan. Setiap angkatan dibagi menjadi dua kloter. Untuk tahun ini, kloter pertama yang melaksanakan program Tutorial pada semester 1 adalah mahasiswa baru dari FIP, FPTK, dan FPBS. Nah, untuk kloter kedua adalah FPMIPA, FPOK, FPEB dan FPIPS. Tentu saja saya mengikuti kloter kedua. Tutorial ini sangat banyak memberi manfaat, walau kadang membosankan, hehe.

Ada yang berbeda dengan tutorial pekan ini. Dengan tajuk Shine On Sunday, tutorial pekan ini menghadirkan Ustadz Kemas Mahmud yang membawakan ceramah dengan gaya yang lucu. Bisa dibilang tidak seperti pekan-pekan sebelumnya yang terkesan membosankan, hehe. Topik yang diangkat pun menarik, sekaligus menyindir kehidupan-kehidupan nyata kaum muda. Dan boleh saya bilag bahwa ini adalah ceramah yang terbaik selama tutorial yang saya ikuti.

Setelah ceramah bersama Ustadz Kemas Mahmud, ada acara yang tak kalah menarik. Para penyelenggara acara tutorial ini mengundang Kang Gugum, mahasiswa IPAI UPI 2013 yang tuna netra, Kang Ridwan seorang yang gagu (tidak dapat berbicara normal), dan yang paling mengejutkan adalah Kang Rendi seorang penjaga sepatu Masjid Daruut Tauhiid yang memiliki kelainan pada dirinya. Untuk berbicara saja dia harus menggunakan seluruh energinya.

Kang Gugum adalah seorang penyandang tuna netra sejak lahir. Saya pernah melihatnya saat pembukaan BAQI. Dia dapat membaca Al-Qur’an dengan menggunakan Al-Qur’an Braille yang total 30 juznya itu seberat 15 kg. Sungguh malu bagi kita yang masih memiliki mata yang sehat, menenteng Al-Qur’an yang ringan tapi enggan membacanya apalagi menghapalkannya. Tapi Kang Gugum ini sangat bersemangat untuk itu. Bahkan di acara tersebut diperlihatkan bagaimana Kang Gugum mengoperasikan HPnya. Dengan menggunakan software khusus, Kang Gugum dapat menggunakan HPnya dengan suara yang dipedengarkan dari HP tersebut. Bahkan sang MC mengajak peserta tutorial untuk mengirim pesan SMS. Kang Gugum pun memberitahukan No HPnya. Pada saat itu juga, banyak SMS yang sampai di HP Kang Gugum. Dan Kang Gugum berkata “Waduh banyak SMS yang masuk nih, biasanya jarang yang nge-sms saya”, dan semua peserta di Masjid Al-Furqan pun tertawa.

“Dia dapat membaca Al-Qur’an dengan menggunakan Al-Qur’an Braille yang total 30 juznya itu seberat 15 kg”

Yang kedua adalah Kang Ridwan. Dengan kekurangannya, Kang Ridwan membacakan beberapa ayat suci. Dari sana kita dapat belajar dan bersyukur dengan nikmat bicara yang kita miliki. Saat orang lain yang sulit bicara pun bersemangat untuk membaca Al-Qur’an, kita sebagai orang yang sehat jangan pun membaca Al-Qur’an, tapi masih sering dari kita membicarakan kejelekan orang lain, berdusta, dan maksiat mulut lainnya. Di sini Kang Ridwan juga mengingatkan kita semua dengan bicaranya yang terbata-bata bahwa mengurusi masalah duniawi itu tidak baik, karena semuanya akan kembali pada Allah. Dan hal yang membuat lucu adalah ketika ditanya oleh MC tentang wirausaha yang sedang dijalani oleh Kang Ridwan, dia menjawab dan tidak didengar jelas oleh MC sehingga MC mengatakan “Hah usaha tikus?”, lalu Kang Ridwan berusaha bicara lagi dan MC pun berkata “Oh.. roti kukus..” Dan tawa dan sorak dari peserta pun menghiasi kala itu. Haha.

Yang terakhir adalah Kang Rendi. Saya sering menemuinya, karena dia adalah penjaga penitipan sepatu di Masjid Pesantren Daruut Tauhiid. Saya tidak tahu dia mengidap kelainan apa, yang jelas seperti yang tidak normal. Tapi Subhanallah, orang seperti itu dalam semalam dapat bertilawah sebanyak 2 juz. Sedangkan kita yang sehat jasmaninya, jangan pun bertilawah 2 juz, satu surah pun tak tahu. Di sini pula Kang Rendi berpesan pada mahasiswa UPI untuk terus mengejar impian dan jangan sampai putus di tengah jalan. Tentu dengan begitu sulit dia hanya untuk berbicara seperti itu saja.

” Orang seperti itu dalam semalam dapat bertilawah sebanyak 2 juz.”

Tapi ada momen yang sangat spesial. Yaitu ketika salah satu mahasiswa Pendidikan Sosiologi berdiri, dan berbicara sambil menangis tentang apa yang sedang ia lihat. Ia mengatakan bahwa sungguh malu dirinya yang sehat tapi jauh dari Allah, sedangkan orang yang memiliki kekurangan, sangat dekat dengan Allah dengan segala keterbatasannya. Dan tiba-tiba dia meminta MC untuk memberi dia izin untuk maju dan memeluk ketiga orang tersebut. Suasana pun menjadi romantis, hehe. Banyak peserta yang tidak dapat berkata-kata melihat kejadian tersebut. Akhirnya mahasiswa tersebut memeluk satu persatu orang-orang yang diundang ini sambil menangis.

Mungkin masih banyak orang-orang hebat yang dekat dengan Allah yang memiliki banyak kekurangan selain ketiga orang tersebut. Sedangkan kita yang sehat lupa dengan nikmat Allah yang kita miliki. Mungkin kita menggerutu karena doa kita tak terkabul. Kita mengeluh karena mungkin harta yang kita miliki tak sebanyak ornag lain. Tapi apakah kita tak pernah sadar bahwa tubuh ini dapat bekerja dengan baik? Apakah kita pernah bersyukur bahwa sampai saat ini bahwa kita masih dapat bernapas? Apakah kita pernah bersyukur bahwa mata ini, mulut ini, telinga ini masih melakukan tugasnya dengan baik? Semua itu luput dengan hal-hal duniawi. Kita lebih sering memikirkan berapa uang kita, apa kedudukan kita, dengan melupakan hal-hal yang lebih sederhana, kita masih diberi kesehatan yang mungkin orang lain tak memilikinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s