Menjelang SNMPTN 2014

Sumber gambar: unnes.ac.id

Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memang menjadi target utama kebanyakan siswa SMA yang akan melanjutkan studinya. Berbagai faktor seperti biaya, beasiswa, hingga pandangan bahwa berkuliah di PTN jauh lebih terpandang menjadi alasan PTN menjadi primadona bagi anak-anak SMA yang akan lulus. Mulai tahun 2013, sistem penerimaan ke PTN dibuat berbeda. Kuota untuk masuk PTN via SNMPTN (jalur undangan) menjadi paling besar sebanyak 60%. Sisanya dengan menggunakan SBMPTN (tes tulis) dan seleksi mandiri yang diadakan tiap universitas.

Kuota SNMPTN yang besar mungkin menimbulkan beberapa dampak positif. Contohnya, bagi siswa yang mempunyai prestasi yang baik di sekolah, dapat masuk ke PTN tanpa harus ikut tes tulis, mungkin sebagai “hadiah” dari kerja kerasnya selama 3 tahun di SMA. Tapi apa hanya itu pertimbangannya? Tentu saja tidak.

Saat saya menghadiri acara ITB Day yang dilaksanakan di Aula Timur ITB, di sana dijelaskan bahwa seleksi SNMPTN ini tidak hanya melihat nilai rapot kita dari semester 1-5, tetapi nama sekolah, prestasi, serta alumni yang berkuliah di universitas tersebut juga mempengaruhi. Ini berarti bagi siswa yang bersekolah di sekolah yang “favorit”, akan lebih mudah mendapatkan kursi PTN dibandingkan dengan sekolah yang tidak terlalu diunggulkan. Padahal mungkin saja siswa dari sekolah yang tidak terlalu diunggulkan tersebut mempunyai kualitas jauh di atas siswa yang bersekolah di sekolah favorit tersebut.

“Ini berarti bagi siswa yang bersekolah di sekolah yang ‘favorit’, akan lebih mudah mendapatkan kursi PTN dibandingkan dengan sekolah yang tidak terlalu diunggulkan.”

Bayangkan saja, untuk SMAN 3 Bandung, presentase kelulusan SNMPTNnya mencapai lebih dari 95%, dan lebih dari 90% yang lulus itu diterima di ITB. Sisanya mungkin karena ingin kuliah di fakultas kedokteran (karena di ITB tidak ada kedokteran). Hal ini tentu menimbulkan kecemburuan sosial khususnya untuk sekolah yang sulit untuk tembus ke ITB lewat SNMPTN. Itu merupakan salah satu contoh bukti bahwa pendidikan di negri ini masih “berkasta”.

Tidak hanya itu. Karena yang menjadi penilaian seleksi tersebut adalah kestabilan nilai rapot, banyak sekolah yang “main angka” di rapot siswa mereka. Bertujuan agar siswa-siswa mereka banyak yang diterima di PTN khususnya PTN yang favorit. Dengan itu, nama sekolah itu akan terangkat. Dengan begitu seleksi pun menjadi tidak fair. Jadi siswa yang mempunyai kualitas yang belajar di sekolah yang tidak diunggulkan bisa kalah dengan siswa yang “biasa-biasa saja” di sekolah yang favorit karena faktor-faktor di atas tadi. Dan yang memprihatinkan lagi, kuota untuk jalur ini sebanyak 60%! Sisanya harus berjuang dengan tes tulis, termasuk saya.

Jalur SBMPTN memang jalur paling “bersih” menurut saya. Bukan karena saya masuk PTN karena jalur SBMPTN dan gagal SNMPTN. Tapi karena memang lewat jalur ini, kualitas diri yang diutamakan. Tidak memandang berasal dari sekolah mana. Siswa yang berasal dari sekolah pelosok pun jika poinnya lebih tinggi dari siswa dari sekolah favorit, tentu dia yang akan masuk. Lalu begaimana dengan siswa yang ikut bimbingan belajar yang mahal? Tentu mereka juga akan berkesempatan lebih besar untuk tembus SBMPTN dari pada siswa yang belajar sendiri tanpa ikut bimbingan karena terlalu mahal untuknya. Ya! Memang benar. Tapi setidaknya siswa yang ikut bimbingan belajar pun harus belajar dengan giat untuk bisa tembus SBMPTN. Dia tidak bisa bersantai walau dia ikut bimbingan belajar jika ingin berhasil. Banyak juga kok siswa yang ikut bimbingan belajar tapi tidak lolos SBMPTN. Dan yang belajar sendiri pun bisa tembus ke PTN dengan jurusan yang mempunyai daya saing tinggi.

“Jalur SBMPTN jalur paling ‘bersih’. Siswa yang berasal dari sekolah pelosok pun jika poinnya lebih tinggi dari siswa dari sekolah favorit, tentu dia yang akan masuk.”

Jadi, jangan takut bagi siswa yang sekolahnya bukan sekolah unggulan untuk bisa masuk ke PTN. Dan bagi siswa yang sekolahnya favorit juga jangan menganggap bahwa kalian ada di posisi aman. Banyak contohnya siswa di sekolah favorit tidak lolos SNMPTN, tes tulis SBMPTN pun tidak lolos.

Sekedar tips dari saya:

1. Jangan anggap jalur SNMPTN adalah jalur utama dan satu-satunya untuk tembus ke PTN.
2. Persiapkan diri untuk tes tulis SBMPTN. Jika SNMPTN lolos, syukuri dan tidak ada ruginya jika kita sudah belajar keras untuk tes tulis, karena ada beberapa PTN yang mengadakan matrikulasi bagi mahasiswa baru yang lolos dari jalur SNMPTN.
3. Jika memang ingin mendapat posisi kuliah yang bagus, jangan ambil pilihan jurusan yang rendah persaingannya hanya karena supaya masuk PTN saat SNMPTN. Pilihlah yang kira-kira prospeknya bagus. 4. Jika gagal, di SBMPTN baru boleh memilih jurusan yang kira-kira “gampang masuk” jika tujuannya memang hanya ingin masuk PTN. Karena menurut saya, rugi jika kita masuk ke jurusan yang rendah persaingannya di SNMPTN. Dan apapun jurusannya, kalian akan lebih bangga jika lolos SBMPTN walau masuk jurusan yang dianggap “mudah”.
5. Jaga ego kalian saat SNMPTN, keras kepala sangat dibutuhkan pada seleksi ini. Jika gagal dan harus lewat jalur SBMPTN, baru kalian boleh berfikir lebih realistis. Saya lebih salut jika pada tes SBMPTN masih ada yang berkeras kepala ingin masuk jurusan idamannya walau gagal masuk PTN. Itu lebih terhormat (menurut saya loh).
6. Belajar keras, tinggalkan hal-hal yang mengganggu fokus kalian.
7. Tetap berdo’a dan bertawakal setelah ikhtiar yang kuat.

Itu tips dari saya. Pasti banyak pro dan kontra. Tapi yang harus digaris bawahi adalah bahwa ada dua prinsip untuk melanjutkan kuliah. Yang pertama adalah masuk jurusan apa saja yang penting PTN. Atau boleh tidak masuk PTN asal jurusannya bagus. Setiap orang memiliki pandangan berbeda-beda. Tidak ada yang patut disalahkan. Tapi menurut saya, jauh lebih terhormat bagi orang yang berprinsip untuk masuk ke jurusan yang dia inginkan walau tidak masuk PTN, dari pada orang yang berprinsip asal masuk PTN tanpa peduli prospek dan kecocokan jurusan yang dia dapatkan dengan dirinya sendiri.

Itu menurut saya loh. Bagaimana dengan Anda?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s